Obat Itu Bernama : PELUKAN

 

11222071_10209307435714889_2471766965175015536_n

 

“Bunda… Aku pengen dipeluk…”

Saat seorang anak menginginkan kehangatan & kedekatan fisik, jawaban-jawaban apa yang biasa mereka terima?

“Udah gede kok masih minta peluk?”

“Kayak adek bayi aja masih minta gendong…”

“Kakak ‘kan udah besar, masa masih minta dipangku…”

Sounds familiar?

Nah… Benarkah begitu?

Apakah pelukan hanya milik adek bayi saja? Apakah ‘anak besar’ sudah tidak butuh pelukan?


Berapapun usianya anak tetap membutuhkan pelukan. Bahkan pada usia dewasapun!

Sebuah fenomena menarik sempat dialami Ibu Elly Risman, banyak peserta seminar yang meminta dipeluk oleh beliau. Tidak hanya satu, dua, tapi banyak! Dari bibir mereka keluar ungkapan rindu kehangatan kasih sayang orang tua karena hampir tidak pernah atau jarang dipeluk.

Itu orang dewasa, apalagi anak-anak… apalagi balita!

Memang mereka sudah mulai mandiri, sudah mulai bisa melakukan berbagai hal tanpa dibantu. Memang mereka sudah jadi seorang kakak. Tetapi itu tidak berarti mereka tidak butuh kehangatan fisik.

Bayi terlahir ke dunia dengan jutaan sel otak yang belum terkoneksi. Koneksi2 ini dapat terbentuk dengan progresif ketika anak tercukupi kebutuhan afeksinya. Bagian otak yang bertumbuh saat usia 0-5 tahun adalah sistem limbik yang mengatur emosi, maka memang di usia balita tantangan2nya berkutat di seputar pengenalan & pengelolaan emosi. Pendampingan yang disertai kehangatan & keceriaan, bonding yang kuat penting sekali disini. Jika sistem limbik tumbuh dalam kondisi yang supportif, maka otak bagian selanjutnya siap berkembang dengan pesat yaitu prefrontal cortex (PFC) yang mengatur logika, perencanaan, organisasi, dan segala tetek bengek akademis. PFC akan terus bertahap berkembang sampai manusia dewasa.

Jadi, pelukan usapan kecupan dekapan rangkulan pangkuan yang hangat & tulus untuk anak itu bukan hal sepele! Justru salah satu fondasi agar anak dapat melejit potensi-potensinya.

Pelukan bukannya memanjakan apalagi melemahkan, pelukan menguatkan.

Pelukan itu juga mudah, murah, cepat, dan gratis!

Saat berpelukan otak mengeluarkan hormon oksitosin yang dapat meredakan marah, kesepian, kesedihan. Sebuah obat luar biasa bagi polah tingkah anak yang menguji kesabaran, polah tingkah yang sebenarnya adalah buah dari emosi-emosi negatif yang dirasakannya.

Tak perlu banyak berkata, sebuah pelukan saja bisa menyiratkan lebih dari berbaris2 kata ungkapan kasih sayang:

“Bunda sayang padamu..”
“Bunda menerimamu apa adanya.”
“Bunda disini buatmu…”
“Tidak apa2, Nak. Everything is going fine…”
“Ayah yakin kamu kuat, Ayah yakin kamu bisa….”
“Dunia luar memang menantang, Nak. Jangan khawatir, Ayah Bunda akan mendampingi….”
“Maafkan Ayah Bunda ya Nak, telah mengabaikanmu, telah membuatmu tidak nyaman. Tidak ada maksud sedikitpun untuk membuatmu begitu…”

Dengan dipeluk, konsep diri anak pun menjadi positif karena anak merasa ia sosok yang penting, yang kan selalu diterima dan dicintai. Sebaliknya, anak yang haus akan pelukan & kehangatan konsep dirinya guncang karena bertanya-tanya apakah aku masih disayangi, apakah aku penting?

Pelukan menguatkan hubungan, bonding antara orang tua dan anak, yang akhirnya memudahkan komunikasi, memudahkan menasihati, memudahka memotivasi.

Sebuah pelukan adalah obat, suplemen, vitamin dahsyat bagi jiwa anak agar dapat melalui berbagai tantangan dalam perkembangannya. Bahkan penelitian menunjukkan pelukan dan bentuk kehangatan lain meningkatkan daya tahan tubuh, jadi pelukan juga menguatkan fisik. Masya Allah 🙂

Bersikap hangat juga dicontohkan oleh Rasulullah Sholallahu ‘alayhi wassalam. Beliau sangat sayang dan tidak sungkan mencium memangku menggendong anak-anak dengan penuh kehangatan. Dan dari didikan beliau menjelma pejuang-pejuang hebat & kuat seperti Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Anas bin Malik, Usamah bin Zaid. Juga seorang putri yang tangguh bernama Fathimah Azzahra.

Jika anak menampakkan tingkah polah yang tidak mengenakkan
: merusak barang2, berteriak2, tidak mendengarkan, menyakiti saudaranya, dan lain2nya kita perlu evaluasi segera: Sudahkah kita memeluknya hari ini?

Langkah antisipatif yang biasa kami lakukan adalah menyengajakan untuk memeluk, mengusap, memangku, mendekap anak pada momen-momen tertentu terutama si Kakak, supaya ‘tangki cinta’-nya full, sehingga iapun siap menyayangi, siap menjalani hari, siap mendengarkan nasihat. Dan begitu muncul tingkahnya yang menarik perhatian secara negatif maka ini jadi alarm buat kami untuk memberinya obat bermana : PELUKAN.

Semoga Allah membimbing kita mendampingi anak-anak menjadi generasi penyayang dan tangguh.

Mari saling mengingatkan mari saling belajar.

—-
Jogja, 23 Oktober 2016.

Other parenting stories:
www.ayahbundabelajar.com