Minta ke Allah ya, Nak!

15219520_10209581309921573_4498482397839762564_n

Suatu siang yang mendung lalu mendadak hujan. Siang hari di rumah kami adalah saatnya anak-anak tidur siang. Sambil melihat langit Rayyis berkata pada saya,
“Eh hujan, Bun..”

“Eh iya.. Berarti ini saatnya kita berdoa, Mas. Kan kalau pas hujan Allah mengabulkan doa. Mas mau berdoa apa?”

Sambil rebahan saya berkata,
“Kalo Bunda mau berdoa apa ya? Ehm, ‘Bunda kepengen rihlah ya Allah, keluar kota…’ Hehehe” saya ketawa2 ☺️

Rayyis menimpali dg serius,
“Ya Allah… Mudahkan aku dalam menghafal surat Al-Fajr. Karena aku kepengen sekali punya mainan A…”

Saya tertegun melihat wajahnya begitu serius lalu berkata “Semoga Allah mudahkan ya, Nak…”
Sambil mengusap2 punggungnya.

Beberapa hari kemudian walaupun dg sedikit terbata2 Rayyis berhasil menghafal Al-Fajr, surat paling panjang yang pernah dihafalnya.
“Rayyis inget ga? Berapa hari yg lalu Rayyis kan berdoa ya. Eh alhamdulillah Allah kabulkan ya… Rayyis, kalo kita jaga Al-qur’an Allah juga jaga kita, dapetnya ga cuma mainan karena Allah ridho…”


Siang menjelang dzuhur, si sulung sedang kebingungan mencari mainan favoritnya saat saya sedang cuci piring.
“Ditunggu dulu yah, Bunda bantu cari setelah cuci piring…”

Hmm, setelah kami cari-cari ke tempat2 yang biasanya si mainan belum jua ditemukan. Saya lalu mengajak Rayyis duduk dan berdialog sebentar.

“Rayyis kepengen sekali ya mainannya ketemu? Rayyis tau ga siapa yang bisa menemukan mainan Rayyis?”

“Bunda…”

“Hehe, bukan. Allah, cuma Allah yang bisa menemukan mainan Rayyis. Sekarang Rayyis siap2, ikut Ayah sholat ke masjid lalu berdoa minta ditemukan mainannya. Ok?”

“Ya Bunda..”

Setelah pulang dari masjid mendadak si mainan ketemu, ternyata ada di ruang tamu waktu tadi Rayyis main kejar2an sama adek.

“Wueh bener ‘kan Rayyis, setelah berdoa ketemu deh mainannya…”

Dia manggut2 ?


“Rayyis kalo kepengen apa2 minta ke Allah ya… Rasulullah bahkan sandalnya putuspun mengadu ke Allah…”
.
Salah satu fokus pendidikan anak usia dini adalah menanamkan iman, tauhid, mengenalkan anak pada Rabb-nya. Salah satunya tentang “Allahu shomad…” hanya kepadaNya kita bergantung, curhat, mengadu, memasrahkan segala galau & baper kita. Menanamkan nilai seperti ini tidak lepas dari menunggu momen yang tepat sehingga anak takjub & terpesona sendiri. Fitrah anak memang terbuka pada iman, kita sebagai orang tua yang perlu menangkap setiap momen kejadian agar jadi pembelajaran tauhid.


Yang perlu terus dijaga adalah kedekatan & kemesraan kita dg anak. Karena anak akan menganggap penting apa yang kita ajarkan dan mau menerapkannya karena sayang & rindunya pada kita. Artinya, bagaimana mungkin anak akan mau mengenal Rabb-nya sebagai Maha Pengasih Penyayang jika kita yang mengajarkannya ini tidak punya sikap lembut & penyayang? Anak akan mengasosiasikan yang diajarkan dg pengajarnya.
.
Mungkin karena itulah Rasulullah sholallahu ‘alayhi wassalam begitu sabar, lembut, sangat menjaga menghormati perasaan, & penuh toleransi-penerimaan kepada anak2. Ya Allah… Semoga kita bisa meneladani beliau.

Semoga Allah juga mudahkan kita mendidik generasi robbani, generasi kuat yang mencintai Rabb-nya, Rasul-Nya dg sungguh2.

Wallahu’alam.

Our parenting stories & insights:
www.ayahbundabelajar.com