Agar Anak Mandiri: Cerita Tentang Mengambil Minum Sendiri

❤️Cerita tentang Mengambil Minum Sendiri❤️

Mandiri adalah salah satu karakter yang ingin saya biasakan ke Rayyis sedini mungkin. Berhubung niatnya pengen punya anak minimal 3 tanpa babysitter, makanya semua anak harus bisa self help sedini mungkin biar emaknya ga repot hehe. Dan suatu saat malah bisa ikut bantu ngurus rumah tangga.

Alhamdulillah.. Rayyis sudah fasih :
• makan sendiri, dari umur 6 bulan sudah terbiasa, ga pernah diemut juga.
• mengambil minum sendiri
• cuci tangan sendiri, dilap sendiri
• main sendiri, non gadget one of course
• hampir bisa pake kaos sendiri, kalo celana masih harus dibantu
• pakai sandal sendiri dan ditata sendiri naruhnya
• buang sampah sendiri
• gosok gigi sendiri
• mandi sudah mulai bisa gosok badan sendiri dan disiram sendiri.

Hampir semua skill ini dipelajari dengan smooth kecuali perkara : mengambil minum!

Mengambil minum disini adalah dengan gelas, pencet dispenser, air diisi, gelas dibawa ke meja, diminum.

Beberapa bulan lalu saya keheranan karena ketika acara minum Rayyis akan merengek-rengek minta diambilkan.
R: Bunda.. Aku mau minum
B: Ambil sendiri sayang, ‘kan sudah bisa, sudah besar
R: Aku ga bisa Bun.. Bunda aja..
B: Eh anak pinter kok, ayo ambil sendiri..

Begitu deh perdebatan antara saya dan Rayyis terus berlanjut sampai
ujung-ujungnya Rayyis tantrum menangis meraung-raung. Baru reda ketika dipangku dan dipeluk. Saat sudah tenang saya ajak dialog.
B: Kenapa ga mau ambil minum sendiri, nak?
R: … (Diam sesenggukan)
B: ‘kan anak mandiri, pasti bisa ambil minum sendiri

Saat itu saya bertekad untuk mencari tau penyebab mogok ambil minumnya ini. Yang jelas, saya buang jauh-jauh pikiran bahwa: Rayyis pemalas, Rayyis manja. No! Tidak pernah ada anak yang pemalas. Kurang motivasi, kurang dilatih, kurang diberi tantangan bisa jadi.
Rayyis pasti punya alasan lain.

Kenapa saya begitu serius melatih skill mengambil minum ini?
Selain karena alasan manajemen RT akan lebih mudah ketika semua anak mandiri,tidak pernah dilayani. Ini life skill sehari2 yang bila dipelajari sedini mungkin akan menaikkan self efficacy-nya, perasaan bahwa ia mampu. Yang akan menjadi bekalnya menghadapi tantangan2 lainnya lagi yang lebih kompleks dalam hidup.

Saya jadi memperhatikan setiap perilaku yang berhubungan dengan soal minum ini dan ketika menyadari penyebabnya saya tertegun sendiri.

Suatu ketika akhirnya saya ambilkan minumnya, tetapi saya minta Rayyis untuk menaruhnya di meja. Rayyis berusaha membawa sambil bergumam,
“Ga tumpah kok, ga tumpah..”

Oh,jadi Rayyis tidak mau ambil minum karena takut tumpah? Saya bertanya dalam hati.

Kali yang lain saya perhatikan dari jauh. Rayyis kehausan dan ART di rumah membantunya mengambilkan. Si ART sambil bilang,
“Hati-hati ya.. Nanti kalo gelasnya pecah Bunda bisa marah…”

Rayyis kemudian tampak berhati-hati sekali minumnya.

Bunda marah?
Astaghfirullah.. Jadi ternyata Rayyis enggan mengambil minum karena Bundanya!

Saya langsung merasa bersalah. Flashback dengan yang lalu… Saya jarang sampai marah pada Rayyis untuk berbagai hal. Tetapi memang ketika Rayyis memecahkan gelas saya panik karena takut Rayyis terluka. Dan ketika minumnya tumpah saya takut Rayyis atau yang lain terpeleset. Reaksi saya ini ternyata menimbulkan trauma tersendiri padanya.

Astaghfirullah.. Saya menyesal, banyak-banyak istighfar. Terlupa bahwa Rayyis masih proses belajar dan segala sikap Bunda-nya akan jadi feedback tersendiri buatnya. Bukannya mereward dan menerima hasil belajarnya supaya Rayyis bertambah semangat. Saya malah tanpa sadar memberi punishment sehingga menyurutkannya. Ini teori dasar psikologi, saya makin merasa down 🙁

Setelah tau akar masalahnya, saya jadi tahu bagaimana harus bersikap. Kesempatan berikutnya ketika Rayyis merengek lagi sampai menangis ketika acara minum, saya pangku dia sambil dipeluk.
B: Nak sayang, Rayyis kalo ambil sendiri takut tumpah atau pecah ya?
R: Iyaa…
B: Rayyis takut Bunda jadi marah?
R: Iyah…
Masya Allah, ternyata benar.
B: Oh gitu… Rayyis ga apa2 kalo tumpah nanti bisa kita lap sama2… Ga perlu takut. Ya?
Rayyis mengangguk
B: Rayyis juga pakai gelas harimau aja yang plastik, yang itu tidak akan pecah.
B: Maafkan Bunda kalo pernah marah ya… Bunda janji ga akan marah lagi… Sekarang coba diambil minumnya sendiri pake gelas harimau dan sedikit dulu aja supaya ga tumpah…

Alhamdulillah, Rayyis langsung mau ambil minum sendiri. Memang di kesempatan berikutnya sempat mogok lagi, tetapi ketika disupport lagi soal ga apa2 tumpah atau pecah, Rayyis akhirnya mau ambil minum sendiri. Setelah terus diulang2 dan saya betul2 konsekuen sama sekali tidak panik dan marah, sekarang tanpa diminta pun sudah inisiatif ambil minum sendiri.

Alhamdulillah…

Cerita ini mungkin sepele bagi orang lain, tetapi bagi saya teguran keras supaya lebih bersabar dan menahan diri bersikap di depan anak.

Sering dengar ya cerita seperti seorang Ibu yang akhirnya sampai tua pun kemana2 harus diantar karena tidak berani naik motor sendiri. Karena sedari kecil Ibu beliau begitu khawatir dan panik saat anaknya belajar. Apalagi setelah kejadian menabrak sesuatu, si Ibu yang trauma, bukan anaknya. Akhirnya trauma itu membekas terus sampai dewasa.

Pelajaran yang saya dapat ketika mendampingi anak belajar apapun, terutama agar anak mandiri:

1. Jangan pernah sedikitpun melabel anak negatif. Tidak ada anak yang malas, nakal, bodoh. Semua anak pada dasarnya cerdas & semangat belajar. Ketika orangtua sudah melabel, maka kesempatan anak untuk bertumbuh jadi baik pun pudar sudah.

2. Kita sebagai orangtua ga perlu jadi ahli parenting, cukup jadi ‘ahli’ dalam memanage anak2 kita. Ketika ada hambatan anak dalam belajar, do a research. Cari tahu ada apa. Jangan buru2 ngejudge.

3. Jaga betul2 respon2 kita dalam mendampingi anak belajar. Setiap kata, ekspresi, perilaku kita diperhatikan terus oleh anak. Respon kita bisa jadi bahan bakar anak untuk belajar, bisa juga jadi tembok besar yang menghalangi.

Semoga Allah selalu memberi kita petunjuk saat mendampingi anak belajar & bertumbuh.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *