Balita Itu Memang Gitu…

Diposting 17 September 2016  |  Dalam kategori Uncategorized

“Waaaa…. Waaaa…. Aaaaaak!”

Balita memang gitu… Hobi teriak-teriak. Namanya juga baru aja tau kalo suaranya itu bisa dikencengin, dipakailah terus volume tertinggi. Apalagi kalau orangtuanya cuma perhatian & fokus kalo si anak teriak hehehe. Jadilah dipakai strategi ini untuk.. Caper ?

Mungkin saja balita yang suka teriak ini perlu dikenalkan suara pelan.

Sst…” Dekati sambil mengecilkan suara.

“Gimana kalau kita pake suara semuuut aja… Ssst… Pelan-pelan yaa, jangan sampe kedengeran…”

“Ga boleh pokoknya ga boleeeeh…. Itu ‘kan mainan punya aaakuuuuu…..!”

Aduh, aduh pelit amat. Eits pelit? Memang anak balita bisa pelit? Pelit atau malah berusaha melindungi hak-haknya? Pelit atau baru belajar mengenai otoritas, mengenai kepemilikan?
Jangan buru2 dicap pelit. Emang ayah bunda mau gadget kesayangan atau mobil terbarunya dipinjemin ke temen seminggu? ???. Anak juga sama… Mainannya adalah miliknya yang berharga. Hargai jika dia mau melindungi yang dia punya. Akan ada tahap anak belajar empati dan berbagi


“Aku mau tempe goreng aja. Mau tempe!”
“Lhoh tadi katanya mau telur dadar?”

“Aku ga jadi ikut deh…”
“Lhoh tadi katanya pengen ikut. Gimana sih kok berubah teruuus? Ga konsisten, plin plan kamu Nak!”

Wow, wait Mom, Dad!
Balita memang gitu… Dunia yang baru saja dicicipi ini menawarkan banyak hal yang ingin dicoba, menarik sekali. Otak anak juga belum siap untuk teguh pada satu hal. Karena apa? Otak para petualang kecil ini disiapkan untuk eksplorasi… Discover the world. Taste this.. Try that… ???
So Mom Dad… Woles aja. Bersiaplah untuk fleksibel & expect many surprises.

“Bundaaaa…. Mau pulaaang, ga mau sekolaaaah…. Maunya ditemeniiiin….”

“Duh kok ga mandiri sih kayak yg lain…? Kok ga bisa berbaur? Kok ‘mbok-mbokan’?”

Hold on, balita memang gitu… Kita aja orang dewasa tiba2 ditinggal di sebuah gedung antah berantah jauh dari rumah tak ada yang dikenal juga panik & ga nyaman.. Apalagi manusia2 kecil ini…?
See through them… Posisikan diri sebagai anak. Mereka ini baru saja mengenal dunia. Kalau masih butuh kita kalau masih rindu rumah, wajar saja…
Turunkan ekspektasi… Perbanyak toleransi… Terima mereka dengan pelukan yang hangat. There will be time mereka bahkan seakan tidak butuh lagi pada kita… Dan kita yang malah merana membutuhkan mereka….

“Ga mauu… Ga mauuuu… Pokoknya ga mauuuu!”

“Kamu ini kecil2 ngelawan, ga nurutin Bunda, keras kepala!”

Puk,puk, sabar Bun.. Balita memang gitu… Ada tahapnya ada saatnya semakin dilarang semakin diterjang… Semakin dibatasi semakin menjadi. Kondisi anak yang seperti ini ada OBAT-nya. Obat? Ya. Obatnya bernama Pelukan Hangat & Kesediaan Mendengarkan.
Balita yang melawan bukan benar2 ingin melawan. Perlawanan hanya ungkapan protes atas kurangnya perhatian, atas hausnya kehangatan, kebutuhan untuk direfleksi dipahami keinginannya.
Masuklah lewat pintu mereka, nanti keluarnya lewat jendela kita. Ikuti dulu maunya, pelan2 giring untuk ikut kemauan kita.
Ya, ya, ini memang seni bernegosiasi☺️


“Kamu ko ga bisa diem sih…? Geraaak terus sampe pusing ngeliatnya.”

Hmm… Balita ya begitu itu. Mereka baru saja punya mainan berupa badan mereka. Mereka lagi seru2nya mencoba tubuhnya yang ternyata bisa manjat, lari, lompat, guling2, koprol, salto. Dari yang tadinya pas bayi cuma bisa dieeeem aja. Mereka belajar dengan bergerak.
Fasilitasi lalu beri batasan. Harus ada penyaluran energi fisik mereka yang besar. Penyaluran yang positif. Kalo sudah tersalurkan biasanya lebih anteng dan tertidur dengan lelap ?

“Mainanku kok copot-copot giniiiiii…. Wuaaaaaaaa……!!!” *nangis guling2 teriak2*

“Kamu kok dikit2 tantrum dek!” *gigit2 tembok* ???

Tantrum lagi, tantrum lagi. Yah, balita memang gitu, Bu, Pak.

Kalau bagi kita kemarahan itu seperti sesuatu yang menjalar di tubuh atau ‘mendidih’ di kepala. Kalau bagi balita kemarahan seperti badai tornado yang menguasai diri mereka, sehingga jadinya tidak terkendali. Tetapi perlahan-lahan mereka akan bisa menguasai. Jadi tunggu saja. Badai pasti berlalu itu benar… Tapi jangan coba2 menyelamatkan anak dari badai dg mengabulkan apa yg diminta karena hal ini sifatnya penundaan, anak akan tetap harus menguasai ketrampilan melewati badai ini. Begitu juga kita ☺️
Semakin sering menghadapi tantrum anak, semakin tenang. Pelaut handal tidak datang dari laut yang tenang, Pak, Bu ?

Tahun2 pertama kehidupan balita ini singkat saja. The days are long but the years are short. Repotnya ribetnya sebentar saja. Tetapi tahun2 kritis dengan begitu banyak tantangan ini adalah pondasi untuk sisa hidup mereka.

Apa yang mereka butuhkan?
Bukan mainan keren, bukan sekolah canggih, bukan metode terupdate. Yang mereka butuhkan: UNCONDITIONAL LOVE.

Saat mereka merasa dicintai, saat kebutuhan mereka akan relasi yang hangat terpenuhi, maka balita2 pintar ini akan dapat bertumbuh dengan optimal. Dengan sendirinya punya semangat belajar, dengan sendirinya berkembang kemampuan kognisinya, kapabilitas akademiknya, atau bahasa kerennya Executive Functioning di otak mereka.

So, mari PAHAMI, BERI RUANG EKSPLORASI, TURUNKAN EKSPEKTASI, DAMPINGI balita-balita cerdas ini.

Semoga anak-anak kita bertumbuh menjadi insan mulia, generasi robbani, pemimpin-pemimpin yang membuat perubahan yang lebih baik.

Wallahu’alam. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *