Bolehkah Memanjakan Anak?

Diposting 5 December 2015  |  Dalam kategori Uncategorized

Ini kisah nyata yg saya saksikan sendiri.
Suatu sore seorang anak perempuan usia 2,5tahun, Bunga (bukan nama sebenarnya :p) sedang asyik nonton Baby TV. Tiba2 Papa-nya lewat didekatnya. Sontak Bunga langsung berkata pd Papanya.

Bunga: Papa, sini nonton tivi sama Bunga.. Lucu banget ini Pa..
Papa: (dg nada males) Bunga.. ‘kan bisa nonton sendiri..
Bunga: Mau ditemenin Papa, sini nonton sama Bunga..
Papa: (mukanya tambah ga enak) Kamu ini mulai deh manja2 lagi ‘kan…
Si Papa akhirnya dg terpaksa duduk di sebelah Bunga,tapi cuma beberapa menit aja. Si Papa lalu beranjak.

Papa: Ah, Papa kebelet pipis nih.. sebentar ya..

Si Papa sambil memegangi perut ngacir ‘pura2’ ke kamar mandi ga balik lagi.

Saya cuma melongo & menatap kasihan pada Bunga.

Apa sih yang tidak tepat dari perilaku si Papa?
1. Anak berapapun usianya,apalagi balita yang perkembangan otak-nya sangat dipengaruhi kecukupan afeksi,jika minta didampingi, ditemenin main, diperhatikan sama sekali bukan perilaku MANJA (yang negatif). There’s nothing wrong with that.

2. Si Papa mungkin capek setelah seharian bekerja, jadi agak setengah hati mau nemenin Bunga, tetapi si Papa tidak perlu berbohong. Si Papa bisa menyampaikan baik2 pada Bunga bahwa Papa masih capek, nak. Papa istirahat sebentar ya setengah jam, nanti kita bisa mainan sama2 lagi.

Anak2, balita sekalipun bisa diberi pengertian seperti itu. Anak yang sering ‘dibohongi’ begitu bisa kehilangan trust-nya pd orang lain, anak akhirnya sulit bergaul dan eventually juga sering ‘berbohong’.

Kembali ke poin pertama soal MANJA. Mungkin masih ada sebagian orang tua yang berpendapat: Anak itu jangan terlalu dimanja, nanti jadi ga mandiri. Anak harus diperlakukan dingin & keras supaya kuat menghadapi hidup.

Memang benar begitu?

Secara keilmuan Psikologi,justru yang terbukti selama bertahun2 ini malah sebaliknya!
Yang berkuliah Psikologi pasti tidak asing dg Attachment Theory-nya John Bowlby. Teori ini meyakini bahwa Dependence Leads to Independence. Anak yang ketergantungannya secara emosional dipenuhi oleh orang tua (or other main caregiver) secara tepat (secure), akan jadi anak yang lebih mandiri bereksplorasi & dealing with the real world.

Anak yg orang tua-nya responsif terhadap kebutuhan emosi anak (anak disupport, dipuji, didampingi, didengarkan dengan penuh empati) akan jadi anak yang percaya diri menghadapi tantangan2 hidup. Orangtua adalah cerminan bagi anak tentang dunia yang sebenarnya, jika orang tua terlihat aman & bisa dipercaya, maka iapun akan dg yakin bereksplorasi di dunia luar.

Teori Bowlby ini juga sudah dibuktikan lewat penelitian2 yg lain yang terkini. Saya sendiri mengamati bagaimana teman2 saya yang hubungan emosi-nya hangat & dekat dg orang tua-nya jadi orang2 yg outstanding & berkarya lebih.

Memang betul, bahwa kita sebagai orang tua harus memanjakan dengan tepat,jangan sampai tidak mendidik.
Anak meminta ditemani main, dibacakan cerita, didengarkan ceritanya, maunya bareng2 makan atau sikat gigi, dipeluk ketika takut… itu memanjakan yang mendidik,yang menguatkan jiwa…

Anak mau mainan atau makanan apapun kapanpun dituruti, apapun dilayani padahal sudah bisa dilatih mandiri, dibelikan gadget ini itu tanpa didampingi… Nah,yg begini memanjakan yang melemahkan…

Tentu berbeda ya?

Ketika anak sedang tahap belajar satu life skill misal makan sendiri atau sikat gigi, pasti perlu pendampingan ekstra di awal, orang tua perlu memahami & menjalani itu dengan enjoy.
Manjakan anak selagi bisa apalagi di masa 7 tahun awal artinya berikan afeksi, perhatian, kehangatan, pendampingan, pelukan, ciuman, canda tawa yang banyak… dengan tetap bertujuan mendidik anak tentang values & life skill. Karena hal ini menguatkan jiwanya.
Sedangkan penolakan, pengabaian, kepura2an, kebohongan (anak bisa merasakan loh), ambisi egoisme (orang tua yang punya mimpi, bukan anaknya), overprotektif,overpanic… akan melemahkan jiwa.

Bagaimana kalo dialog di atas kira2 50 tahun lagi berbalik?
Papa: Bunga… sini sebentar nak, acara tivinya bagus.
Bunga: Aduh Papa ni, ‘kan Papa bisa nonton sendiri, Bunga sibuk banyak urusan..!

Astaghfirullah. Naudzubillahi mindzalik.
Semoga kita semua diberiNya petunjuk menjadi orang tua yang sikap, perilaku, & perkataannya bisa menguatkan jiwa anak2 kita.
Aamiin.

Good to read:
https://www.psychologytoday.com/blog/are-we-born-racist/201205/the-dependency-paradox-why-people-are-not-feet

1 tanggapan pada “Bolehkah Memanjakan Anak?”

  1. Bagus sekali postingannya bunda, saya sendiri wanita bekerja terkadang badan ini sudah ingin sekali rebahan dikasur, namun anakku (3y2m) sering minta di temani untuk menggambar, memang letih di awal tapi melihat antusiasnya alhamdulillah rasa letih pudar ya mbak. Saya tidak pernah menganut apa itu manja selama dalam konotasi positif. Apalagi di usia emas yang memang perlu didampingi, karena menurut saya konotasi manja itu ya untuk negatif.. semoga kita menjadi org tua yg baik. amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *