Cara Komunikasi dengan Balita

Bismillah…

Ini salah satu adegan klise yang mungkin sering kita temui di sebuah pusat perbelanjaan:

Anak: Bunda, eskriiiim..
Ibu: Ga usah nak, nanti batuk..
Anak: Eskriiiim… (bersikeras)
Ibu: Tidak usah..,
Anak: Eskriiiim, eskriiiiiiim… (semakin ngotot,setengah berteriak)
Ibu: Udah Bunda bilang ga usah! (Ga kalah ngotot)
Anak: Eskriiiiim, mau eskriiiiiim!!! (Teriak-teriak membahana)
Ibu: Kamu kok ngeyel sih, Bunda tinggal aja ya!

Entah eskrim, entah mainan, bahkan yang tidak terlalu penting seperti senter sering jadi bahan perdebatan sengit yang saya amati antara ibu dan anak-anak balita-batita di tempat umum. Biasanya ujung-ujungnya si anak rewel menangis jejeritan 🙂

Bisa tidak ya situasi seperti ini terjadi dengan lebih damai? bagaimana supaya anak menurut dan tidak rewel?

Jika cara orang tua berkomunikasi dengan anak diperbaiki sedikit, insya Allah bisa.
Sedikit bekal teknik komunikasi dengan anak saya pelajari dari kuliah Psikologi, beberapa tahun berkontribusi di dunia pendidikan anak, dan workshop parenting. Alhamdulillah perdebatan sengit seperti diatas jarang terjadi dengan Rayyis.

Ini beberapa Cara Komunikasi dengan Balita yang biasa saya lakukan:

1. Ubah mindset. Anak sekecil apapun, selugu apapun harus dihargai, dihormati hak-haknya, keinginannya, aspirasinya, walaupun sepele menurut kita. Anak-anak terkadang sudah puas dengan hanya didengarkan dan dipahami. Nanti dikala dewasa insya Allah anak-anak yang dipahami,didengarkan dengan baik akan jadi anak yang percaya diri dan menghargai orang lain. Tanamkan ini dulu didalam diri, sehingga ketika anak meminta sesuatu kita lebih siap sedia memperhatikan.

2. Posisi setara, Ketika berbicara dengan anak, dekati dia, dan posisikan diri setinggi anak. Kita memang harus berjongkok atau merunduk. Kalau perlu sambil dirangkul. Posisi ini membuat anak merasa kita setara dengan dia, anak akan mendengarkan kita karena merasa kita mau berusaha ‘masuk ke levelnya’. Beda halnya kalau kita berbicara ke anak tetapi sambil berdiri,membelakangi,atau malah sambil memegang gadget. Orang dewasa pun juga tidak akan suka diperlakukan seperti itu.

3. Bicara dengan tenang. Tenang, ikhlas, yakin kalau anak kita anak yang baik tetapi sedang belaja, sangat mpengaruhi cara kita berkomunikasi. Mau pakai teknik apapun kalau tidak tenang,emosional, kemungkinan besar gagal. Ketenangan menular, begitu juga kepanikan

4. Tatap matanya & Refleksikan keinginannya, lalu arahkan ke perilaku yg kita inginkan.

“Mm, Rayyis kepingin buku Thomas? Jejes.. jejes.. gitu ya? (Sambil memperagakan kereta)”
“Ooh.. ini ‘kan sama seperti yang dibelikan Eyang, ada loh dirumah, nanti kita cari yuk..”
“Kalo Rayyis masih mau kita bilang Ayah dulu ya,’kan bulan ini kita sudah beli mainan.. mungkin bulan depan kita beli bukunya..”

5. Tawarkan PENGGANTI dari apa yang diminta. Misal kalau memang sedang batuk tidak boleh makan es krim,ganti dengan yang lebih sehat misal sup buah buatan Bunda. Seperti sore kemarin Rayyis yang lagi asyik sesi bermain di luar rumah tiba-tiba menepuk-nepuk abu sisa erupsi Kelud, Wah.. berbahaya untuk mata dan bisa mengakibatkan ISPA. Langsung saja saya angkut Rayyis ke dalam pagar, Rayyis lalu menangis sambil memegang pagar. Saya langsung dekati:

Bunda: “Rayyis mau maenan abu?
Inget ga kalo maenan abu bisa masuk mata? Matanya jadi sakit kan? (Sambil mengucek mata dramatis :p)”
Rayyis: … (berhenti nangisnya & langsung nunjuk2 mata)
Bunda: “Kita maen dihalaman samping aja yuk.. maen kerikil2 boleh atau petik2 daun.. Yuk2..” (sambil jalan ala baris berbaris ;p)
Rayyis: … (langsung ceria lagi & lari2 ke halaman samping)

6. Pegang teguh NILAI yang ingin kita tanamkan. Misalkan tidak boleh beli mainan karena kita mau mengajarkan nilai Berhemat, Bersyukur, Menahan diri; maka kita harus konsisten dengan itu. Jangan lalu karena malu dengan orang lain,kita bolehkan anak beli mainan. Anak mungkin bakal mengamuk, tetapi kalau kita konsisten eventually kids will understand.

7. Katakan hal yang BENAR dan logis, jangan pernah berbohong, tepati janji. Anak akan percaya pada omongan kita karena apa yang kita katakan dan& janjikan sesuai dengan yang kita lakukan.

8. Bicara seperlunya, tahan diri untuk mengomel.
Karena kalau anak sudah mengecap kita kebanyakan mengomel, apa yang kita ucapkan tidak ada artinya lagi bagi mereka. Sedih ‘kan?
Dengan memperbaiki cara kita berkomunikasi maka ada 2 hal penting yang sedang kita bangun:

1. Pola komunikasi orangtua-anak yang sehat sampai anak dewasa. Komunikasi lancar, terbuka, sehat terkait dengan keharmonisan hubungan. Kalau ada apa-apa, anak-anak tidak akan segan cerita, instead of teman-teman sebaya, orangtua-lah orang pertama yang ingin mereka curhati.
Isn’t that great?

2. Menyiapkan anak menghadapi dunia luar dengan ketrampilan berkomunikasi yang baik. Anak-anak akan belajar mngekspresikan diri, mengelola emosi, dan mngemukakan keinginan dengan sehat,that’s important for their future success.

Semoga bermanfaat.

Bagaimana pengalaman Ayah Bunda berkomunikasi dengan anak?
Adakah kesulitan yang dihadapi? Silahkan share disini.

Referensi tentang komunikasi dengan anak yang layak dibaca:

1. Buku: “Saat Berharga untuk Anak Kita” & “Positive Parenting” by Mohammad Fauzil Adhim
2. Buku: “Nanny 911” by Deborah Carrol & Stella Reid
3. Buku : “Berbicara Agar Anak Mau Mendengar,dan Mendengar Agar Anak Mau Berbicara” by Adele Faber & Elaine Mazlish
4. Review workshop parenting “Agar Balita Mendengar”: http://liteupurheart.blogspot.com/2013/11/agar-balita-anda-mau-mendengarkan.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *