Agar Anak Mandiri: Cerita Tentang Mengambil Minum Sendiri

❤️Cerita tentang Mengambil Minum Sendiri❤️

Mandiri adalah salah satu karakter yang ingin saya biasakan ke Rayyis sedini mungkin. Berhubung niatnya pengen punya anak minimal 3 tanpa babysitter, makanya semua anak harus bisa self help sedini mungkin biar emaknya ga repot hehe. Dan suatu saat malah bisa ikut bantu ngurus rumah tangga.

Alhamdulillah.. Rayyis sudah fasih :
• makan sendiri, dari umur 6 bulan sudah terbiasa, ga pernah diemut juga.
• mengambil minum sendiri
• cuci tangan sendiri, dilap sendiri
• main sendiri, non gadget one of course
• hampir bisa pake kaos sendiri, kalo celana masih harus dibantu
• pakai sandal sendiri dan ditata sendiri naruhnya
• buang sampah sendiri
• gosok gigi sendiri
• mandi sudah mulai bisa gosok badan sendiri dan disiram sendiri. Baca lebih lanjut > “Agar Anak Mandiri: Cerita Tentang Mengambil Minum Sendiri”

Cowok Tidak Boleh Nangis!

Bismillah..
Sepertinya sudah terlalu sering kita dengar komentar begini kalau ada anak lelaki yang nangis:

“Cowok kok, ga boleh nangis. Cowok harus kuat, ga boleh cengeng..”

Rayyis pun beberapa kali pernah dapet komentar begitu.
Saya selalu membiarkan Rayyis menangis (padahal suara tangisnya memang kalau lagi heboh melengking seperti mau diculik :p). Baca lebih lanjut > “Cowok Tidak Boleh Nangis!”

Cara Komunikasi dengan Balita

Bismillah…

Ini salah satu adegan klise yang mungkin sering kita temui di sebuah pusat perbelanjaan:

Anak: Bunda, eskriiiim..
Ibu: Ga usah nak, nanti batuk..
Anak: Eskriiiim… (bersikeras)
Ibu: Tidak usah..,
Anak: Eskriiiim, eskriiiiiiim… (semakin ngotot,setengah berteriak)
Ibu: Udah Bunda bilang ga usah! (Ga kalah ngotot)
Anak: Eskriiiiim, mau eskriiiiiim!!! (Teriak-teriak membahana)
Ibu: Kamu kok ngeyel sih, Bunda tinggal aja ya! Baca lebih lanjut > “Cara Komunikasi dengan Balita”

The Power of Father (Part 2)

Bismillah.
Mengapa peran Ayah penting dalam mendidi anak?
Dan mengapa dialog Ayah dan Anak adalah salah satu sarananya?
Konon katanya suara Ayah yang berat dan ngebas cocok untuk menyampaikan instruksi, dibandingkan suara Ibu.
Kalau kesimpulan saya, bagian Ayah adalah menyampaikan visi dan filosofi hidup. Perkataan seorang Ayah membekas di jiwa. Perkataan Ayah -yang baik tentunya- akan menguatkan dan meneguhkan jiwa anak. Baca lebih lanjut > “The Power of Father (Part 2)”

The Power of Father (part 1)

Bismillah.

Dari sebuah seminar yang saya ikuti juga artikel yg saya baca, ternyata saya menemui sebuah fakta menarik mengenai peran ayah yang terdapat di dalam Al-Qur’an:

Jumlah dialog antara Ayah & Anak jauh lebih banyak daripada Dialog antara Ibu & Anak.

Banyak yang beranggapan para ibu lah yg secara alamiah yang seharusnya mengurus anak dari hari ke hari. Bahkan sampai-sampai ada paham “Anak tu ya urusan Ibu, Bapak nyari nafkah aja, Bapak tahu beres..”. Sungguh menyedihkan, bahkan urusan komunikasi dengan anakpun disampaikan lewat Ibunya. Namun mari coba kita renungkan, kenapa di Al-Qur’an dialog antara Ayah & Anak jauh lebih banyak daripada dialog antara Ibu & Anak. Baca lebih lanjut > “The Power of Father (part 1)”