Tarbiyah Jinsiyah (Pendidikan Seks dalam Islam)

Saat kajian Jogjamuslimahpreneur 2 pekan lalu di De Halal Mart, saya sempat menyinggung soal ini, kaitannya dengan mencegah LGBT maka Islam sudah menawarkan solusinya melalui pendidikan Islam, salah satunya lewat tarbiyah jinsiyah. Bagaimana sebetulnya pendidikan seks dalam Islam? Apa bedanya dengan Barat?

Bismillah, disini saya coba merangkumnya dari berbagai sumber yang praktis diterapkan pada daily parenting kita.

Pendidikan seks dalam Islam mengacu kepada pendidikan akhlak dan adab yang berlandaskan kepada keimanan Allah dan sesuai syariat (aturan) yang telah termaktub secara rinci di Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah. Dan pendidikan dalam Islam itu semata menjaga fitrah, sedangkan fenomena LGBT dan perzinahan yang marak belakangan ini adalah karena manusia sudah begitu jauh dari fitrahnya, sudah terlampau dari batas-batas yang diterapkan syariat.

Sedangkan Sex Education ala Barat hanya mengajarkan “seksualitas yang sehat” atau “seks yang aman” (safe sex) meliputi: seks secara anatomis, fisiologis dan psikologis. Misal, cara mencegah kehamilan, bagaimana supaya tidak aborsi. Paradigma Sex Education ini sepertinya disampaikan Ustadz Fauzil Adhim di tahun 1930 di US menyebabkan maraknya berbagai penyakit seksual, kemudian di tahun 1960 berakibat teen pregnancy.

Dalam sebuah kajian, Ustadz Budi Ashari menyatakan dapat menjadi masalah besar jika pendidikan seksual yang kita ikuti berasal dari masyarakat yang bebas tanpa batas, yang kontennya justru membangkitkan syahwat dan mengeruhkan otak para pelajar. Dr. Adnan Baharits termasuk orang yang tidak setuju dengan pelajaran Biologi mengenai alat reproduksi untuk para pemuda (setingkat SMP-SMA). Menurutnya, hal itu justru membangkitkan syahwat yang tidak perlu. Pendidikan seksual adalah lahan subur bagi pengikut syahwat untuk menebarkan kebatilan, penyimpangan moral, dan pemikiran sesat mereka dengan dalil ilmiah. Salah satu contoh kesesatan dalam pendidikan seksual adalah anak boleh melihat aurat orangtuanya, atau boleh melihat aurat anak yang lain.

Tarbiyah jinsiyah justru tujuannya adalah menghambat syahwat seksual dan mengarahkannya hanya di koridor pernikahan. Bahkan ketika sudah diperbolehkan dalam mahligai pernikahan pun hubungan suami istri memiliki adab yang sarat dengan nilai ibadah seperti dianjurkannya untuk berdoa dan ketika malam pertama disunnahkan untuk berwudhu kemudian sholat sunah dua rakaat.

Menurut Ustadz Budi Ashari, tarbiyah jinsiyah seperti halnya pendidikan lain, memerlukan waktu dan tahapan. Bukan sebuah penjelasan singkat yang tiba-tiba.Misalnya untuk hukuman bagi para pezina tidak pas bila kita jelaskan pada anak balita, pada balita maka salah satu fokusnya adalah membiasakan menutup aurat. Kemudian karena tujuan Tarbiyah ini adalah menjaga kesucian maka cara dan bahasa untuk menyampaikannya juga mesti santun, tidak vulgar. Dan benar bahwa sebaiknya orang tua dan guru yang menjelaskan dengan tenang – tidak panik, baik, dan benar sesuai dengan usianya jika anak bertanya. Bila bukan orang tua atau guru (orang terdekat yang mengasuh mendidik)  yang menjelaskan maka dikhawatirkan anak akan mencari sumber lain yang keruh, yang bisa menjerumuskan. Baik Ustadz Fauzil Adhim maupun Ustadz Budi Ashari sama-sama menyampaikan bahwa pembahasan fiqih adalah pintu utama dan mulia untuk mengajarkan pendidikan seksual karena bernilai ibadah.

Nah apa saja, tarbiyah jinsiyah yang bisa kita terapkan sedini mungkin kemudian bertahap kepada anak-anak?

Berikut saya rangkum dari penjelasannya dari berbagai sumber yang bisa dicermati lebih lanjut di daftar referensi di akhir tulisan:

  1. Mengajari anak mengenai apa itu aurat, bagian tubuh mana saja, dan mengajarinya untuk menutup sedini mungkin. Misal membolehkan anak tidak berbusana hanya saat di kamar mandi dan ketika di kamar hanya orang tertentu saja yang boleh lihat auratnya. Selain dari itu anak harus menutup auratnya. Juga sambil mengajarkan bagian tubuh yang mana saja yang tidak boleh dipegang orang asing.
  2. Meminta anak menahan/menjaga pandangan(gadhul bashar). Ada adab-adab yang mesti diterapkan bahkan semisal ketika laki-laki melihat laki-laki atau perempuan melihat perempuan yang dijelaskan secara detail di buku Tarbiyatul Aulad fil Islam karya DR. Abdullah Nashih Ulwan. Hal ini juga termasuk membantu mendampingi anak memfilter apa-apa saja yang ia lihat dan dengar. Termasuk mendampinginya saat melihat tayangan baik di TV maupun internet.
  1. Memisahkan tempat tidur Anak yang telah mencapai usia 10 tahun jangan dibiarkan tidur bersama saudaranya yang sejenis dalam satu selimut tanpa memakai pakaian. Begitu juga dengan orang tua sendiri yang sejenis. Sudah ada beberapa kasus anak yang terjerumus menjadi gay akibat orang tua yang lalai soal ini.

 

  1. Ajarkan Meminta Izin Masuk ke Kamar Orangtua

Sebagaimana disebutkan dalam QS An-Nuur: 58, orangtua hendaklah mengajarkan anak-anaknya untuk meminta izin masuk kamar orangtua pada 3 waktu utama (sebelum Subuh, pada tengah hari, dan setelah isya). Untuk anak-anak yang sudah baligh, maka setiap kali akan masuk kamar orang tua, harus meminta izin. Selain itu, orang tua hendaklah menjaga dari pandangan anak pada waktu berganti pakaian.

 

  1. Menjaga anak supaya tidak melihat dan mendengar pemandangan erotis. Dalam hal ini termasuk ketika orang tua si anak sedang berhubungan, maka tidak boleh sampai anak melihat, lakukan di tempat yang tidak bisa dilihat dan didengar anak.

 

  1. Menanamkan Jiwa Maskulin kepada Laki-laki dan Jiwa Feminin kepada Perempuan. Rasulullah sangat membenci laki-laki yang berpakaian perempuan atau sebaliknya. Menurut penelitian, kelainan-kelainan syahwat tidak ada yang dimulai dari lahir. Kelainan syahwat bermula dari lingkungan. Jadi kelaki-lakian itu harus ditumbuhkan sejak dalam keluarga. Jangan laki-laki diberikan mainan perempuan atau sebaliknya.

 

  1. Kenalkan Konsep Mahram & Non-Mahram dan Bagaimana Adab bergaul dengan Non Mahram.   Batasan mana yang mahram dan bukan mahram jarang diajarkan dalam keluarga. Kadang anak sangat akrab dengan sepupunya, padahal dalam Islam, sepupu itu nonmahram (mereka boleh menikah).
  1. Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilath (campur baur/pergaulan bebas) di antara laki-laki dan perempuan.
  2. Mendidik agar tidak melakukan khalwat (berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram).
  3. Mendidik etika berhias sehingga kaum muslimah tidak bertabarruj.
  4. Mengajarkan Fiqh Thaharah sejak Dini

Bagian dari Tarbiyah Jinsiyah adalah pemeliharaan anggota-anggota tubuh manusia. Dalam kitab fiqh ada bagian thaharah yang merupakan kewajiban orang tua untuk mensosialisasikan kepada anak-anaknya bagaimana menjaga kebersihan kelamin untuk kepentingan thaharah, macam-macam najis, dan bagaimana tata cara berwudlu yang benar.

  1. Jelaskan Proses Kejadian Manusia

Dari nuftah, alaqah, mudhghah (Morulla, Blastrulla, Gastrulla; tentang prosess kejadian manusia salah satunya ada di QS Al Hajj:5) dan seterusnya.

  1. Mengajarkan Puasa Sunnah

Sebagaimana perkataan Rasulullah, puasa itu akan mempersempit jalannya syaitan, dan lebih bisa menahan gejolak nafsu syahwat.

  1. Mengenalkan Sanksi Zina

Sanksi zina dalam Islam sangat berat. Orangtualah yang menjadi penanggung jawab utama terhadap dosa perzinaan anak-anaknya. Sudahkah anak dididik untuk tidak berzina?

  1. Etika kehidupan bersuami istri secara Islam baru boleh di ajarkan kepada mereka yang benar-benar akan menikah.Pada masa akhir kana-kana maka anak seharusnya sudah mendapat penjelasan mengenai baligh atau fase pubertas.

Hal yang mendasar sekali untuk mengawali tarbiyah jinsiyah adalah dengan menanamkan iman yang kuat kepada anak, membuat anak mencintai Allah dan Rasulnya, sehingga timbul rasa takut untuk melanggar perintah Allah dan Rasulullah, dan berhati-hati menjaga kesucian diri, serta timbul rasa harap akan janji Allah yaitu balasan kebaikan bagi orang-orang yang bertaqwa.

Semoga bermanfaat. Feel free untuk chat dengan saya jika butuh diskusi ke IG: @ayu_kinanti, FB: Ayu Kinanti Dewi, atau Whatsapp 081949106555.

 

 

Referensi:

  • Kajian Ustadz Mohammad Fauzil Adhim, Ramadhan 2014, Masjid Kampus UGM
  • Kajian Tabiyah Jinsiyah Ustadz Budi Ashari, Lc
  • https://seizeyours.wordpress.com/2014/11/27/tarbiyah-jinsiyah-pendidikan-seksual-kepada-anak-ust-budi-ashari-lc/
  • Tarbiyah Jinsiyah Ustadzah Herlina Amron, MA.
  • http://arsipmendidikanak.blogspot.co.id/2016/08/15-konsep-tarbiyah-jinsiyah-sex.html
  • http://pustaka.islamnet.web.id/Bahtsul_Masaail/Khutbah%20dan%20Ceramah/TARBIYAH%20JINSIYAH%20DALAM%20KELUARGA%20MUSLIM.htm
  • Buku Pendidikan Anak dalam Islam (Tarbiyatul Aulad Fil Islam) by DR. Abdullah Nashih ‘Ulwan
  • Buku Pendidikan Seks Usia Dini bagi Anak Muslim by Prof. Yousef Madani

Ayah Bunda, Siapkah Untuk Bersabar?

b914850c74ad9487cd66715856eee4d2
Jika kita mengetahui bahwa tahun-tahun pertama kehidupan ananda adalah masa emas perkembangan nalar juga pondasi pembentukan karakternya, tentu kita akan lebih berdedikasi mendampingi…
Jika kita mengetahui bahwa bentakan kita akan menghancurkan berjuta sel-sek otak ananda yang sedang bertumbuh, tentu kita akan lebih diam & menahan diri kala tingkah ananda makin menjadi…
Jika kita mengetahui kasih sayang yang hangat akan jadi ‘pupuk’ terbaik bagi perkembangan otaknya, sel-selnya menjadi terjalin dengan indahnya, tentu kita akan melegakan hati untuk bersabar..

Jika kita menyadari,

bahwa masa kecil anak yang merepotkan ini hanya sebentar tetapi berpengaruh pada seluruh hidupnya, tentu kita akan rela berpayah-payah membersamai…

Jika kita menyadari,
bahwa setiap pertengkaran anak-anak adalah ayat dari Allah yang mengandung hikmah, peluang pembelajaran akan pengelolaan konflik-negosiasi-bersikap adil-seni meredam emosi, tentu kita akan lebih bersiap juga bersabar mengawal resolusi antar saudara ini…
Jika kita menyadari ketidaksiapan kita mengemban profesi orang tua yang harusnya dijalankan dengan profesional layaknya kita sekian tahun berjuang jadi sarjana, tentu kita akan mawas diri terus belajar terus evaluasi amanah seumur hidup ini…
Jikalau kita menyadari bahwa tingkah polah anak adalah cerminan diri, tentu kita akan langsung merenung mengevaluasi apa saja sikap perbuatan kita yang sudah terekam pada anak..
Jika teriakan anak menyesakkan maka siapa yang sebelumnya juga berbicara dengan berteriak2?
Jika anak enggan diminta melakukan sesuatu maka siapa yang sebelumnya menunda2 memenuhi permintaan anak?
Jika kita menyadari bahwa malaikat sedang mencatat setiap detil lelaku pengasuhan kita entah sebagai amal kebaikan atau malah dosa keluputan dan kelalaian, tentu kita akan bersungguh-sungguh menata diri dalam perkara pengasuhan…
Jika kita menyadari…
Bahwa kelak Allah akan bertanya sejauh apa ikhtiar dan keistiqomahan kita mendidik jiwa-jiwa yang Dia titipkan pada kita, yang jadi amanah berat bukannya sekedar status apalagi buat lucu2an dibanggakan, tentu kita akan serius menentukan langkah-langkah pendidikan anak…
Jika kita menyadari bahwa kalimat pada doa “kamaa robbayaani soghiiro” memang sebuah penekanan  dari Allah akan pentingnya pengasuhan anak masa kecil, tentu kita akan lebih ikhlas berlelah-lelah mengkhidmati…
Karena tentu kita ingin Allah sayang pada kita sedalam sayang kita pada anak, saat mereka kecil…
Jika kita meyakini bahwa sebuah pekerjaan kebaikan yang dilakukan all out dedicated ikhlas karena Allah tidak bisa dibayar seberapa banyak pun rupiah – hanya Allah yang sanggup membalas dengan hal yang kitapun tak mampu membayangkan, maka… Kita akan lebih ikhlas mencurahkan setiap tetes keringat dan air mata mengasuh mendidik mengajari sang buah hati…
Jazakumullah bil jannah… Semoga Allah balas dg surga-Nya…
Ayah Bunda, adakah kita menyadari ini?
Ayah Bunda, apa yang akan kita jawab di hadapan-Nya?
Ayah Bunda, apa saja yang sudah kita upayakan?
Catatan selfreminder Bunda Rayyis Alyas
Jogja, 7 Februari 2017

Renungan Pengasuhan : The Power of Istighfar

16114478_10210171042904529_4863540891691288820_n

Seorang guru saya mengatakan dalam menghadapi permasalahan pengasuhan perbanyak istighfar dengan ‘membawa’ anak-anak pada setiap helaan ingatan kita padaNya.

Ya, ya… Karena bisa jadi tingkah polah anak yang menyesakkan jiwa itu karena tingkah polah orang tua-nya sendiri yang mendurhakai-Nya.

Teringat pula perkataan guru-guru yang lain, bahwa sebelum berbicara pada anak mengenai sesuatu yang penting paling tidak lakukan qiyamulail, sholat tahajud. Agar Allah menurunkan qaulan tsaqiila, perkataan yang berat. Juga menurunkan ketenangan.

Ya, ya… Terkadang kita lupa bahwa yang menggenggam hati anak adalah Allah. Maka pada siapa lagi harus meminta kemudahan selain Dia?

Kemudian sekali sudah menyusup ketidaktenangan, ketergesaan, amarah ke dalam hati maka apapun bentuk komunikasi dengan teknik ter-update sekalipun yang kita lakukan kepada anak tidak akan sampai, tidak bisa efektif.

Tenang adalah prasyarat. Dan hanya dengan apa hati akan tenang? Hanya dengan mengingat Allah!

Ketika anak-anak berselisih cara yang paling manjur yang dilakukan oleh para guru pengasuhan adalah dengen memeluk lalu mendoakan anak-anak di depan mereka. Agar tangan-tangan kecil mereka untuk saling menjaga dan menyayangi saudaranya.

Ya, doa! Semoga tidak luput selalu kita lantunkan dengan penuh kepasrahan pada Dia semata yang mampu melembutkan hati anak.

Bila semua telah kita kembalikan pada yang Maha tetapi masih terasa lelaku anak menyempitkan jiwa, maka kita perlu menelisik lebih dalam. Apakah ada harta tidak halal yang sudah terlanjur masuk pada badannya? Apakah kita membiar harta ribawi dimakan oleh buah hati?

Segala teknik dalam ilmu psikologi anak bisa mentok jika Allah tidak berkehendak memberikan solusi. Manusia yang dhoif ini mana boleh jumawa dengan segala ilmu duniawinya.

Ketika galau dengan tingkah anak, cari Allah dulu.

Buah hati kita adalah tangga-tangga menuju Dia. Memang seharusnya membuat kita naik kelas, memperbaiki diri, memaksa kita menyembuhkan segenap luka di jiwa..

Mengembalikan kita pada jalan taqwa.

Wallahu’alam bi showab.

—–
Jazakumullah khoyron kepada para guru Yanda Duma Rachmat Ibu Elly Risman, Ustadz Solikhin Abu Izzuddin, Alm. Ustadzah Yoyoh Yusroh, Abah Lilik yang beberapa bulan ini mendidik saya hal-hal fundamental dalam pengasuhan.

Menggendong Itu Menguatkan

Bismillahirrohmaanirrohiim.
“Bayi nangis jangan dipegang,biar ga manja!”
“Bayi nangis biarin aja, itu bagus buat paru-parunya..”
“Kok cengeng sih bayi ini, nangis terus…”
“Jangan keseringan digendong, nanti bau tangan, nanti malah ga belajar jalan..”
Pernah denger komentar2 seperti ini?
Sekarang coba kita pahami situasi para bayi. Sebelum lahir, bayi berada di rahim selama 9 bulan. Rahim & cairan ketuban menjaga bayi tetap hangat & nyaman. Situasi di rahim juga ga berisik, tenang. Nah ketika dilahirkan.. suddenly bayi harus menghadapi dunia luar. Yang berbeda sekali dg situasi nyaman di rahim. Bisa saja begitu dingin, kasar, & sendirian. Apa yang bisa dilakukan seorang bayi yg juga belum bisa bilang apa2, belum bisa mobile kemana2?
MENANGIS. Baca lebih lanjut > “Menggendong Itu Menguatkan”

Agar Anak Mandiri: Cerita Tentang Mengambil Minum Sendiri

❤️Cerita tentang Mengambil Minum Sendiri❤️

Mandiri adalah salah satu karakter yang ingin saya biasakan ke Rayyis sedini mungkin. Berhubung niatnya pengen punya anak minimal 3 tanpa babysitter, makanya semua anak harus bisa self help sedini mungkin biar emaknya ga repot hehe. Dan suatu saat malah bisa ikut bantu ngurus rumah tangga.

Alhamdulillah.. Rayyis sudah fasih :
• makan sendiri, dari umur 6 bulan sudah terbiasa, ga pernah diemut juga.
• mengambil minum sendiri
• cuci tangan sendiri, dilap sendiri
• main sendiri, non gadget one of course
• hampir bisa pake kaos sendiri, kalo celana masih harus dibantu
• pakai sandal sendiri dan ditata sendiri naruhnya
• buang sampah sendiri
• gosok gigi sendiri
• mandi sudah mulai bisa gosok badan sendiri dan disiram sendiri. Baca lebih lanjut > “Agar Anak Mandiri: Cerita Tentang Mengambil Minum Sendiri”