Cowok Tidak Boleh Nangis!

Bismillah..
Sepertinya sudah terlalu sering kita dengar komentar begini kalau ada anak lelaki yang nangis:

“Cowok kok, ga boleh nangis. Cowok harus kuat, ga boleh cengeng..”

Rayyis pun beberapa kali pernah dapet komentar begitu.
Saya selalu membiarkan Rayyis menangis (padahal suara tangisnya memang kalau lagi heboh melengking seperti mau diculik :p).

Memangnya kenapa kalau cowok nangis?
Apa tidak boleh ya cowok mengekspresikan kesedihan, terharu dengan menangis?
Apa lalu menangis membuat cowok jadi lemah?
Apa menangis lalu sama dengan cengeng?
Bagaimana cara mendidik anak laki-laki agar sehat secara emosional?

Oke, here are some points:
1. Ketika menangis kita mengeluarkan hormon yang membuat pikiran jadi tenang. Crying is relaxing. Relaxing means recharging power. Menangis adalah cara alami dan kodrati tubuh untuk menenangkan diri. Bukankah kekuatan itu ga akan kita dapat tanpa ketenangan. Gimana jadinya kalo kita ga boleh nangis? We could become weak. Precisely!

2. Doktrin cowok tidak boleh nangis ini dicurigai para peneliti Psikologi Perkembangan sebagai penyebab lebih pendeknya umur lelaki daripada wanita. Kok bisa? Tidak boleh menangis akhirnya digeneralisir para lelaki sebagai tabu mengekspresikan emosi-emosi negatif maupun positif. Nah loh,apa jadinya kalau emosi-emosi (terutama yang negatif) tertahan di dalam diri? Jadi tekanan psikologis yg bermanifestasi sebagai penyakit fisik. Akhirnya cowok-cowok yang sok kuat ini malah jadi lebih rentan terhadap stres dan penyakit,jadilah lebih pendek umurnya. (Hasil penelitian ini saya baca di Buku Life Span Development, karya Santrock)

3. Menangis tidak sama dengan cengeng. Menurut saya, menangis cermin kelembutan hati. Tentunya menangis yang tidak berlebihan. Menangis sebagai ungkapan bahwa diri ini memang tidak ada apa-apanya,begitu kecil di hadapan Allah,jadi cerminan hati yang hidup dan hangat. Menangis dalam doa dan kepasrahan kepada Allah juga bukan cengeng

Ketika anak menangis, baik cowok maupun cewek,mereka punya pesan yang ingin disampaikan:
-Aku sedih
-Aku marah
-Aku kesal, dll.

Kenapa menangis? Batita/balita belum bisa dan masih belajar untuk bisa berkomunikasi.

Kalau anak menangis,tanggapi segera pesan itu dengan tenang dan berusaha pahami/refleksikan dulu:

“Rayyis kenapa nangis? Oh Rayyis kesal ya karena balok-baloknya jatuh terus.. sini Bunda bantu, kalau pelan-pelan masangnya ga jatuh kok..”

Lalu arahkan ke perilaku yang lebih tepat:
“Daripada nangis, Rayyis bisa bilang: jatuh, tolong Bunda..”
Jika anak menangis lalu malah dilarang untuk menangis,maka anak akan merasa pesan yang ingin disampaikannya diabaikan, tidak penting. Pada sebagian anak,akan semakin menjadi nangisnya. Dan yg saya amati,jika ini terus terjadi sampai besar,anak akan jadi tidak PD/kaku/penentang karena perasaan-perasaannya diabaikan.

Padahal,anak belajar menyikapi masalah dari bagaimana orangtuanya menyikapi masalah. Kalau orangtua tenang dan suportif, anak akan paham bahwa masalah yang dia hadapi bisa dihadapi dengan santai. Anak juga akan belajar menyampaikan keinginan/perasaannya dengan lebih sehat dan komunikatif.

So, let the babies & toddlers cry.. All they need is a warm heart to understand them,& a warm arms to hug them

Kalau Rayyis sudah agak besar saya akan bilang: “Menangis boleh nak, jika ada masalah menangislah dalam sholat & doa. Manusia ga perlu sok kuat, kita ini memang lemah, makanya butuh Allah…”

:’)

1 tanggapan pada “Cowok Tidak Boleh Nangis!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *