MEMBASMI RENGEKAN DI PAGI HARI : Mengatasi Anak Merengek

Diposting 5 May 2016  |  Dalam kategori Uncategorized

“Wuaaaaa… Bundaaaaa…”
Whining in the morning. Begitulah, beberapa waktu lalu Rayyis si anak ‘besar’ masih saja bangun pagi dengan kondisi menghebohkan seisi rumah. Merengek mencari Bunda di kala saya biasanya sedang sibuk2nya memasak atau mencuci.
Beberapa kali dimotivasi dengan berbagai cara tidak ampuh.

Terinspirasi dari satu teknik yang diceritakan Prof. Martin Seligman di bukunya Authentic Happiness, pagi itu berbekal pensil dan kertas saya bertekad akan membasmi rengekan2 pagi hari, demi kedamaian pagi di rumah ini 😄. Sebuah teknik komunikasi sederhana yang dipraktekkan istri Prof. Seligman untuk membujuk anaknya.

Ketika masuk kamar, seperti biasa Rayyis langsung menghambur sambil sesenggukan. Ketika sudah lebih tenang, sambil terus mengusap kepalanya, dialogpun saya mulai.
B: Rayyis kenapa menangis? Nyari Bunda ya?
R: Hiks… Iyaa…
B: Hmm gitu… Minta ditemani ya?
R: Iyaa…
B: Rayyis tunggu ya, Bunda ambil kertas & pensil dulu.
Rayyis terdiam penasaran mengamati saya yang kemudian menggambar smiley/emoticon cemberut di kertas.
B: Coba lihat wajah yang ini. Cemberut gini. Enak dilihat ga?
Rayyis menggeleng. Saya lalu menggambar emoticon menangis.
B: Sama wajah yang inini.. Nangis2… Hua, hua, hua… Enak dilihat ga ya?
R: Ga enak…
B: Nah, Rayyis tau ga? Tadi wajah Rayyis juga begini… Cemberut terus merengek menangis… Berarti wajah Rayyis enak dilihat ga ya?
R: Ga enak..
Saya kemudian menggambar lagi 2 emoticon senyum.
B: Hmm… kalo yang ini wajahnya sedang apa?
R: Senyum!
B: Betul! Senyum ceria sampe kelihatan giginya. Menyenangkan dilihat ‘kan?
R: Iya!
B: Nah.. Gimana kalo Rayyis mulai besok pagi bangun dengan tersenyum ceria? Supaya enak dilihat. Kalo merasa tidak nyaman bisa disampaikan dg baik ke Bunda atau Ayah. Bagaimana? Mau ‘kan?
R: Mau!

Tring! Alhamdulillah, dengan izinNya, sejak pagi itu Rayyis jarang sekali bangun dengan merengek. Kalaupun iya ditahan2 sambil terisak2, tidak menghebohkan seperti yang selama ini terjadi 😄

Pagi itu saya belajar lagi. Banyak cara membujuk anak dengan menyenangkan tanpa menguras energi. Anak fitrahnya kooperatif dan mau belajar, tetapi tidak otomatis tahu bagaimana cara bersikap yang tepat. Anak perlu diarahkan ke perilaku yang tepat dengan cara komunikasi yang juga tepat: positif, efektif, mudah dimengerti anak.

Skill komunikasi benar2 perlu diasah lagi saat mendampingi anak. Karena hampir pasti, maksud kita sebagai orang tua adalah menasihati, membujuk anak untuk kebaikannya. Namun seringkali saat dilakukan caranya yang tidak tepat, kondisi yang belum pas, tidak direncanakan dengan baik. Akhirnya yang terjadi justru masalah perilaku anak seakan semakin menjadi.
Ah, ini masih PR banged buat saya. Harus terus belajar.

Semoga membawa hikmah.
‪#‎notetomyself‬ ‪#‎parenting‬ ‪#‎toddler‬ ‪#‎balita‬ ‪#‎ayahbundabelajar‬

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *