Memilih Sekolah Untuk Balita

Diposting 22 July 2016  |  Dalam kategori Uncategorized

Bismillahirrohmanirrohiim.

Berhubung beberapa teman menanyakan tentang ini, jadi saya susun sekalian jadi 1 tulisan. Sepanjang memilihkan sekolah untuk Rayyis (4 tahun 3 bulan), kami sudah pernah survey hampir ke 10 sekolah di Jogja. Yang selama ini jadi pertimbangan kami adalah hal-hal berikut:

1) Kesesuaian dengan harapan, niat, tujuan orang tua.

Buat kami, Rayyis disekolahkan supaya belajar sosialisasi, kebetulan di sekitar rumah tidak banyak yang seumuran, jadi Rayyis bisa dibilang tidak punya teman bermain, kecuali orang-orang dewasa disekitarnya. Memang ada pendapat batita/balita belum perlu sekolah karena egosentris-nya masih kuat (tidak akan mau berbagi karena kematangan kognisi yang belum memadai), tetapi kalau buat kami pengalaman bersosialisasi punya teman penting untuk ketrampilan emosi anak.
Kemudian karena bagi kami pembelajaran utama anak usia dini tetap di rumah. Jadi yang kami cari half day (cuma 1,5-3jam), sisanya Rayyis ‘sekolah’ di rumah sama Bunda;

2) Visi, Misi, Program, dan Budaya sekolah.

Apa yg jadi titik berat pengajaran, bagaimana kurikulumnya. Untuk mengetahui ini kita harus mengobrol secara intensif dengan pihak sekolah dan trial dulu. Idealnya values (nilai-nilai, misal: sayang teman, jaga kebersihan, keteraturan, selalu mengawali dg doa, dll), positive habits, akhlak yg harusnya jadi orientasi utama buat anak usia dini, bukan akademik (calistung). Sekolah juga perlu menghargai & memfasilitasi keunikan setiap anak, juga membebaskan anak bereksplorasi.

Fasilitas yang keren, dekorasi mempesona tidak menjamin sebuah sekolah bagus untuk pendidikan anak. Saya pernah menemui sekolah ‘cantik’ tetapi guru-gurunya lesu tidak dedikatif & bergairah, setiap hari anak umur 3 tahun diberikan stimulus baca tulis, materi agama bukan sebagai pemaknaan tapi hafalan saja, dan ketika sesi ‘toileting’ anak laki-laki dan perempuan tidak dipisah *geleng2*. Sekolah lama (sudah terkenal) tidak menjamin memiliki kualitas dan idealisme pendidikan, sekolah baru belum tentu tidak bermutu.

3) Edukator.

Bagaimana sikap spontan edukator ke anak, apa reaksinya ketika menangani konflik, ketrampilannya menangani anak. Lagi-lagi, yang ini hanya bisa kita amati lewat trial. Gampangnya edukator harus ekstra sabar & penyayang pada balita, tetapi bisa membuat anak-anak taat aturan. Edukator juga perlu paham, sensitif, dan tanggap menangani permasalahan anak. Juga komunikatif pada orang tua.

4) Rasio edukator/guru.

Rasio edukator/guru Dengan murid juga perlu diperhatikan, idealnya 1 banding 3-5. Lebih dari itu takutnya kurang kondusif, perhatian ke anak kurang.

5) Kebersihan & keamanan.

Datanglah survey secara dadakan maka terlihat secara real bagaimana manajemen kebersihan dan keamanan sekolah (bukan saat Open House). Karena ini memilih sekolah untuk anak usia dini maka perlu dipertimbangkan kondiisi sekolah yang bisa membuat anak bebas bereksplorasi tetapi tetap terjaga : pagar tinggi dan terkunci, ada satpam/guru penjaga, dll.

6) Jarak

7) Rincian biaya

8) Rekomedasi/pengalaman teman/kerabat.

Ini penting karena secermat-cermatnya kita amati saat trial tetap belum bisa memberi gambaran yang banyak.

Kapan waktu yang ideal untuk survey/trial?

Idealnya sebelum liburan tahun ajaran baru, supaya bisa lihat KBM yang berlangsung, & supaya anak bisa masuk bareng teman2 lain , & tidak ketinggalan event2. Tetapi untuk PAUD biasanya masuknya fleksibel selama masih ada kuota di kelas.

Umur berapa anak sebaiknya bersekolah?

Ini kembali ke orang tua masing-masing sesuai kebutuhan juga kesiapan anak. Rayyis mulai umur 2 tahunan sudah disekolahkan. Tetapi kami amati Rayyis baru benar2 enjoy sekolah umur 3,5 tahun. Kesiapan anak berbeda-beda jadi tidak perlu dipaksakan dan saya amati anak laki-laki lebih susah mengikuti flow kegiatan sekolah, no problemo, kebutuhan eksplorasinya masih besar.
Terakhir, sebagus apapun sekolah, yang penting diingat : tanggung jawab pendidikan anak adalah di kita orang tua. Rumah tetaplah sekolah pertama & utama, orang tua tetaplah guru terbaik.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *