Rasa Rindu Tak Terbeli

Diposting 28 February 2016  |  Dalam kategori Uncategorized

Bismillah.

Ada dua kisah yang ingin saya ceritakan.

Yang pertama diceritakan oleh Ustadz Fauzil Adhim:

Seorang anak sebut saja si A,pernah berkeluh kesah kepada ustadz. Si A ini (sudah dewasa) merawat Bapaknya yang sudah paruh baya. Saudara2 yg lain tidak ada yang bersedia. Dia demi birrul walidain menyanggupi merawat Bapaknya walaupun dengan perasaan tersiksa. Tersiksa kenapa?

Setiap kali harus menemui Bapaknya, si A harus terlebih dahulu menulis daftar pertanyaan : Apa kabar, pak? Bagaimana tidurnya? Dan lain2nya. Mengapa sampai begitu? Karena tidak adanya rasa rindu, tidak adanya ikatan-bonding. Bapaknya dahulu telah terlalu sibuk bekerja, abai pada anak2nya terutama ketika masih kecil.

Si A sampai berkata: “Ustadz.. Jika rasa rindu bisa dibeli, akan saya beli. Bahkan mobil yang saya punya akan saya jual…”

Si A semakin tersiksa ketika kemudian Bapaknya meminta maaf. Dalam hatinya berkecamuk: mengapa tidak dari dulu?

Kisah kedua tentang seorang sahabat yang pernah beberapa kali curhat kepada saya, sebut saja si B:

“Kenapa kalo aku bicara ke Ayahku ujung2nya mesti ga enak ya? Niatnya mau diskusi, minta support untuk masalah yg kuhadapi tetapi responnya seakan-akan aku ini salah besar… Seakan2 ayah yang selalu benar… Padahal aku ini ‘kan sedang menghadapi masalah… ” keluhnya sambil tertunduk berkaca2.

“Ayahku tu kenapa sih Q? Sulit sekali sih untuk bisa mendengarkan… Kalo aku crita ayah ga pernah betul2 dengerin.. sambil melengos, sambil baca koran, sambil berbicara pada orang lain. Aku ini sebenernya penting ga sih buat dia? Giliran diskusi nadanya mesti keras mendebat dan suka motong pembicaraan.. Harus gimana aku?”

Sedari kecil si B tidak merasakan kedekatan yang berarti dengan ayahnya, seingatnya si ayah hampir selalu bekerja sampai larut malam. “Tembok tebal” antara si B dengan ayahnya salah satunya berawal dari anggapan ayahnya bahwa anak2 urusan ibunya sehingga pesan2 yang ingin disampaikan ke anak disampaikan lewat si Ibu.

Si ayah juga tidak pernah menghargai usaha2 juga prestasi2 yg dilakukan anaknya. Si ayah berpandangan bahwa: pujian apalagi kepada anak laki2 bisa membuat anak lemah lalai. Padahal yang terjadi justru si B tidak pernah betul2 bisa menghargai dirinya, karena ayahnya tidak mengakui, tidak mengapresiasi.

Salah satu yang menyesakkan juga buat saya ketika si B berkata: “Kata ayahku, aku ini suka melawan orang tua. Padahal ayah sudah menyekolahkan aku tinggi2, memenuhi semua kebutuhanku… Sungguh aku ga mau jadi anak durhaka. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan diri saat bicara dengan ayah… Tetapi rasa ingin mempertahankan diri saat beliau bicara keras tak bisa kubendung… Aku harus bersikap bagaimana lagi jika rasanya tak pernah diakui, dihargai, disayangi?”


Menyesakkan & prihatin bila mengingat 2 kisah diatas. Jadi teringat yang pernah disampaikan Ustadz Fauzil Adhim ketika mengisi kajian parenting di Masjid Kampus UGM. Pernahkah kita bertanya, mengapa doa untuk orang tua diakhiri dengan kalimat:

“… Dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu aku kecil”
Karena waktu anak-anak kecil-lah saat berharga orang tua untuk membangun kedekatan, bonding, ikatan batin. Saat-saat yang justru terkadang dilalaikan. Karena apa? Karena anak-anak kecil yang lucu dan lugu ini belum bisa protes. Karena seakan anak “baik-baik saja”.

Padahal masa-masa emas inilah masa yang paling mudah bagi kita orang tua untuk mendapat tempat di hati anak. Saat anak masih membuka lebar-lebar pintu kepercayaannya. Saat sebagian besar memorinya masih disimpan di memori bawah sadar. Memori yang muncul otomatis, yang ikut mengontrol perilaku saat dewasa. Memori yang membuat anak secara otomatis akan NYAMAN atau ENGGAN pada seseorang.

Jika kedekatan sudah dibangun dengan baik sedari kecil, rindu pada orang tua sudah tertanam kuat di hati anak, otomatis anak akan mendoakan nantinya. Jika tidak ada rindu, tetapi yang ada malah kehampaan kekecewaan, apakah salah jika anak juga setengah hati mendoakan? Apakah salah jika anak bersikap dingin dan kaku seperti kisah A di atas?

Yang saya temukan orang tua jaman sekarang kebingungan: Kenapa aku tidak dihormati? Harusnya ‘kan sama orang tua hormat?
Bagaimana bisa menghormati jika tidak diusahakan supaya anak menghormati? Kedekatan tidak otomatis terjadi, perlu upaya yang terus menerus dilakukan. Apalagi bagi para AYAH. Secara biologis, Ibu sudah duluan punya banyak momen untuk dekat dengan anak, tetapi ayah perlu menyengaja untuk terlibat dalam pengasuhan.

Para AYAH perlu menyadari betul bahwa mereka memiliki ‘superpower’ untuk ENCOURAGE, atau malah DISCOURAGE seperti kisah si B di atas.

Masih ingat ‘kan kalo dialog antara ayah dengan anak di Al-Qur’an jauh lebih banyak dari pada dialog antara ibu dengan anak? Perkataan-perkataan seorang ayah itu membekas di jiwa. Menentukan masa depan seorang anak. Dapat menghujam menanamkan rindu atau malah pilu. Bahkan bila maksudnya memberi nasihat jika tak ada rindu, jika caranya tidak tepat, tidak dengan adab, maka nasehat akan jadi omong kosong saja bagi anak. Naudzubillahi min dzalik.

Mari kita renungkan ulang, kita evaluasi bagaimana pengasuhan kita. Apakah kita sudah mengupayakan rasa rindu terpatri di hati anak? Apakah cara-cara kita mengupayakannya sudah benar? Pernahkah kita bertanya : Nak, apakah kamu bahagia? Apakah kamu sudah merasa disayangi?

Karena sungguh rasa rindu tak terbeli. rasa rindu seharusnya dirajut dari hari ke hari semenjak anak masih kecil, bahkan mungkin sedari dalam kandungan.

Wallahu’alam.

Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua.

#selfreminder #notetoself
Also read:
1. The Power of Father : http://ayahbundabelajar.com/the-power-of-father-part-1/
2. Kesalahan Komunikasi Orang Tua by Elly Risman : http://ayahbundabelajar.com/kesalahan-komunikasi-orang-tua-pada-anak-by-elly-risman/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *