Renungan Pengasuhan : The Power of Istighfar

Diposting 7 February 2017  |  Dalam kategori islamic parenting, parenting, parenting islami

16114478_10210171042904529_4863540891691288820_n

Seorang guru saya mengatakan dalam menghadapi permasalahan pengasuhan perbanyak istighfar dengan ‘membawa’ anak-anak pada setiap helaan ingatan kita padaNya.

Ya, ya… Karena bisa jadi tingkah polah anak yang menyesakkan jiwa itu karena tingkah polah orang tua-nya sendiri yang mendurhakai-Nya.

Teringat pula perkataan guru-guru yang lain, bahwa sebelum berbicara pada anak mengenai sesuatu yang penting paling tidak lakukan qiyamulail, sholat tahajud. Agar Allah menurunkan qaulan tsaqiila, perkataan yang berat. Juga menurunkan ketenangan.

Ya, ya… Terkadang kita lupa bahwa yang menggenggam hati anak adalah Allah. Maka pada siapa lagi harus meminta kemudahan selain Dia?

Kemudian sekali sudah menyusup ketidaktenangan, ketergesaan, amarah ke dalam hati maka apapun bentuk komunikasi dengan teknik ter-update sekalipun yang kita lakukan kepada anak tidak akan sampai, tidak bisa efektif.

Tenang adalah prasyarat. Dan hanya dengan apa hati akan tenang? Hanya dengan mengingat Allah!

Ketika anak-anak berselisih cara yang paling manjur yang dilakukan oleh para guru pengasuhan adalah dengen memeluk lalu mendoakan anak-anak di depan mereka. Agar tangan-tangan kecil mereka untuk saling menjaga dan menyayangi saudaranya.

Ya, doa! Semoga tidak luput selalu kita lantunkan dengan penuh kepasrahan pada Dia semata yang mampu melembutkan hati anak.

Bila semua telah kita kembalikan pada yang Maha tetapi masih terasa lelaku anak menyempitkan jiwa, maka kita perlu menelisik lebih dalam. Apakah ada harta tidak halal yang sudah terlanjur masuk pada badannya? Apakah kita membiar harta ribawi dimakan oleh buah hati?

Segala teknik dalam ilmu psikologi anak bisa mentok jika Allah tidak berkehendak memberikan solusi. Manusia yang dhoif ini mana boleh jumawa dengan segala ilmu duniawinya.

Ketika galau dengan tingkah anak, cari Allah dulu.

Buah hati kita adalah tangga-tangga menuju Dia. Memang seharusnya membuat kita naik kelas, memperbaiki diri, memaksa kita menyembuhkan segenap luka di jiwa..

Mengembalikan kita pada jalan taqwa.

Wallahu’alam bi showab.

—–
Jazakumullah khoyron kepada para guru Yanda Duma Rachmat Ibu Elly Risman, Ustadz Solikhin Abu Izzuddin, Alm. Ustadzah Yoyoh Yusroh, Abah Lilik yang beberapa bulan ini mendidik saya hal-hal fundamental dalam pengasuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *