Siblings Love (2)

Diposting 26 May 2016  |  Dalam kategori Uncategorized

Bismillah.
Di sebuah pertemuan yang cukup akrab, topik mendadak menjadi seru sekali membicarakan bagaimana rasanya punya adik.
“Iya keponakan saya yang itu bilang kalo punya adik tu ga enak… Makanya anak saya juga masih belum mau ni jadi kakak…”
“Lha itu ada tetangga saya, masa anaknya bilang adek dikasih ke orang lain aja…. Hehehe”

Mendengar percakapan itu saya bergeming & merenung. Beginikah yang sudah terlanjur tertanam di pikiran kebanyakan orang? Memang iya punya adek itu sengsara?
Bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika punya adik itu justru kebahagiaan bertambah? Jadi punya temen main, jadi punya seseorang untuk disayangi?

Nah ini dia, mindset. Kalau mindset orang tua dari awal sudah memaklumi mengamini bahwa kakak-adik itu susah saling menyayangi, susah saling akur, ya sudah terjadilah. Ya sudah, tidak ada usaha untuk betul2 mempersiapkan si Kakak untuk bisa suka cita menyambut adik.
Maka saya heran ketika ada orang yang melihat bagaimana Rayyis begitu sayang & care sama adiknya lalu bilang,”Jarang lho kakak yang bisa akur, segitu sayangnya sama adeknya….”

Tampaknya lebih biasa ungkapan2 seperti ini ditujukan pada si Kakak,
“Adeknya jangan dinakali yaa…”
“Rayyis jangan nakal ya sama adek…”
Saya hanya tersenyum dan berkata,”Rayyis sayang sekali sama adek…”

Rayyis sudah bisa jadi asisten saya ketika adeknya rewel.
“Mas, adek nangis tu.. Minta tolong dihibur dulu ya, Bunda masih jemur baju..”
Rayyis langsung sigap membawa berbagai mainan buat adek. Juga menyiapkan guling dan bantal di sekitar adek untuk sandaran. Dan bergaya lucu2 yang bikin adeknya ketawa ngakak2.

Terkadang saya dibuat terheran sendiri. Suatu saat Rayyis tiba2 keluar kamar dan mengambil tisu lalu buru2 lagi masuk kamar menuju adeknya
“Ada apa, Nak?”
“Itu adek ngeces, Bun. Mau dilap”
“Oh, okee…”

Disitu saya belajar, fitrah kakak-adik iti berkasih sayang, tetapi mereka tidak otomatis tahu bagaimana caranya, kita orang tua yang perlu mencontohkan.
Dan bagaimana si kakak merespons sebetulnya juga adalah hasil dari perilaku2 yg ditujukan orang tua menghadapi situasi punya adik ini. Kalau orang tua merasa punya anak lagi, punya bayi itu repot lalu setiap kali bereaksi negatif dg kehadiran adik maka kakak akan menangkap perasaan itu dan bereaksi yang sama.

Gimana dengan Dek Alyas ke Rayyis? Si bayi ini lucunya juga sudah menunjukkan rasa sayangnya ke kakaknya. Si adek akan berguling2 mendekati kakaknya lalu menarik2 baju, pegang2 kaki, dsbnya.
“Hehehe kakiku dipegang2 sama adek Bund…”
“Oh iya, lucu ya… Itu tandanya adek sayang sama Mas…”
“Adek sayang ya?”
“Iya, soalnya Mas baik banget sih ke adek…”

Setiap perilaku adek saya maknai ke Rayyis sebagai sesuatu yang positif. Bahkan ketika adeknya suatu kali guling2 lalu niban kaki Rayyis yang lagi baca buku.
“Bun, adek niban kakiku…”
“Oh maaf Mas, adek belum mengerti. Sini adek minta maaf ya sama Mas… Maaf Mas aku tidak sengaja…”
Ketika sekarang sudah bisa bermain sama2 juga saya minta untuk adil bergantian walaupun adik sebenarnya juga belum mengerti.

Anak datang ke dunia menghadapi berbagai kejadian tetapi belum memiliki kemampuan memaknai, mengambil hikmah. Maka kita pula orang tua yang bertugas menyibakkan makna hikmah sesuatu peristiwa dengan bijak. Dalam hal hubungan kakak-adik ini maka makna tidak jauh2 dari menyayangi, memaafkan, menjaga, bersyukur.

Memang upaya-upaya terus dilakukan day by day untuk memupuk ikatan kakak-adik ini. Saya teringat masa2 awal adek lahir, sambil menyusui saya menyuapi dan membacakan buku untuk kakaknya. Segala kegiatan dilakukan secara paralel supaya si kakak tidak merasa tersisihkan. Supaya kakak yakin bahwa kasih sayang ayah bunda tetap tercurah full untuk Kakak walaupun ada Adik.

Quality time, ngedate tetap saya lakukan berdua saja dengan Rayyis. Misal pagi2 adik belum bangun kami minum hot chocolate sama2 sambil mengobrol.

Bab soal hubungan Kakak-Adik ini bukan hal sepele. Karena jika hubungan ini terus memburuk sampai dewasa nanti akan terbawa. Bullying pada awalnya bukan terjadi di luaran, tetapi justru di rumah. Kakak yang merasa selalu disalah2kan kurang perhatian lalu membenci adiknya dan akhirnya membully. Secara fisik berbahaya, secara verbal juga berbahaya. Saya melihat sendiri berbagai kasus adik yang ‘susah sukses’ di masa dewasanya karena selalu direndahkan oleh Kakaknya lewat kata2.

Pernah pula Mbak saya Bunda Wening berkisah ketika mengisi kajian parenting di sebuah forum ibu2 yang sudah paruh baya, seorang Ibu menangis karena merasa belum bisa memaafkan orang tuanya yang selalu pilih kasih dan menomorduakannya dibanding adiknya. Padahal si adik yang juga sudah ibu2 ada di forum yang sama. Belum lagi kisah keretakan2 dalam keluarga besar yang saya yakin sumber penyebabnya adalah miskonsepsi mismanagement menyikapi bagaimana seharusnya berkakak-adik ini.

Belajar lagi, belajar lagi yang tidak berkesudahan.
Semoga Allah membimbing kita. Semoga Allah menjadikan anak2 kita berkasih sayang, solid, bersama2 menjaga dalam ketaqwaan.
Wallau’alam. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *