Siblings Love

Diposting 9 January 2016  |  Dalam kategori Uncategorized

Rayyis : “Dek.. Jangan nangis dek..”

Rayyis : “Bunda.. Adek mana? Aku mau cium..”

Suatu saat sedang cuci piring, terdengar Alyas menangis dari kamar. Tapi mendadak tangisnya berhenti. Ketika saya mengintip ke kamar. Ternyata Rayyis sedang tidur di sebelahnya dan bercerita entah apa, intinya mau menghibur adeknya. Hehe, how sweet 😍

Rayyis hampir selalu maunya tidur di sebelah adek. Awalnya kami sempat khawatir adeknya ketiban, tetapi nyatanya entah bagaimana Rayyis bisa mengubah posisinya setiap hampir mau kena adeknya. Dan begitu bangun tidur yang dicari adeknya buat dicium2, hehe.

Alhamdulillah, semua karena kemudahan dari Allah, hampir tidak terlihat tanda2 kecemburuan yang destruktif dari Rayyis. Untuk perkara Sibling Rivalry alias persaingan antar saudara ini kami sangat concern, karena Ayahnya dulu merasakan ketidakenakan bahkan sampai dewasa karena itu. Sedangkan saya adalah anak tunggal, i have no idea what it’s like to have a sibling.

Maka sejak awal kehamilan Alyas, kami mencoba mengikhtiarkan beberapa hal. Selain baca banyak buku, bertanya ke sahabat yang sudah beranak lebih dari 1,sempat juga mendapat saran2 berharga dari salah satu suhu Parenting MbakBunda Weningg soal ini.

Pertama, sebelum adek lahir kami berusaha menanamkan mindset ke Rayyis bahwa punya adek itu blessing bukan burden. Bahwa adek ini sayang sama kakak. Menjaga adek adalah suatu tugas kebanggaan. Hadirnya adek tidak akan mengurangi kasih sayang ayah bunda. Keluarga justru akan bertambah hangat dengan hadirnya adek.

“Adek sayang lho sama Mas Rayyis, seneng ni adeknya kalo dielus2…”

“Nak, nanti adek belum bisa apa2 sendiri, adek akan perlu bantuan kakak. Adek akan seneng sekali kalo dibantu, Bunda juga seneng sekali dibantu…”

“Wah nanti kalo ada adek mainnya tambah seru…”

Perkataan2 ini akan membuat si Kakak merasa perannya berarti & penting, bukannya merasa terbebani.

Nah, ini perkataan2 yang sangat perlu dihindari:

“Nanti adeknya jangan dinakali ya…”

Duh, belum juga lahir, si Kakak sudah terlanjur dicap-didoakan bahwa nantinya akan berulah pada adeknya. Big no.

“Nanti kalo maen ngalah ya sama adek. Kakak kan udah besar…”

Tidak ada anak sulung yang pernah meminta jadi anak sulung. Pandangan ini tidak make sense & tidak adil karena si kakak pun masih balita yang belum cukup dewasa untuk mengalah. Hak2 anak harus dihargai tidak peduli berapapun umurnya.

“Nanti kalo adek udah lahir kamu sama Ayah/Eyang aja, Bunda nanti ngurusin adek terus…”

Anak akan merasa adek ini antagonis karena akan merebut kasih sayang ibunda yang selama ini selalu tercurah hanya kepada dia.

Yang kedua, dari sebelum Rayyis lahir we have no TV at home. Dan kalaupun sampai menonton TV, kami tidak pernah membiarkan Rayyis menonton program yang berunsur kekerasan & konten dewasa (kebanyakan ada di TV nasional). Jadi kalaupun ada rasa ketidakenakan, selama ini Rayyis jarang sekali mengungkapkannya dg kekerasan atau destruktif.

Ketiga, saat adek sudah lahir jika ada perilaku tidak tepat maka kami anggap itu sebagai alarm bahwa kakak butuh disayang.

Saat adik baru lahir, perhatian ke kakak justru harus ditingkatkan karena saat2 itu saat adaptasi, bukan hal yang mudah. Maka ekstra pelukan, ekstra pujian, ekstra little treats perlu diberikan supaya kakak tetap yakin dia penting & disayangi.

Fleksibel melihat situasi anak. Program tidur di kamar sendiri yang sebelum adek lahir sempat sukses akhirnya kami tunda. Rayyis kembali tidur bersama kami supaya tetap merasa disayangi, tidak terpinggirkan karena adanya adek.

Seperti saran Mbak Wening, saat itu dengan luka jahitan yang masih agak sakit saya sempatkan untuk ngedate sebentar dengan si Kakak. Rayyis senang sekali, yang tadinya jarang mau digandeng, ini justru minta digandeng. Selama ngedate saya bilang bahwa: “Bunda kangen sama Rayyis, Bunda sayang Rayyis. Kadang2 Bunda harus menyusui dan ganti popok adek, setelah itu baru bisa main lagi sama Rayyis. Bunda tolong dibantu ya. Terima kasih sudah bersabar ya sayang.. Bunda bangga sekali.”

Upaya ini masih tahap yang awal sekali. Dengan bertambahnya umur kedua lelaki kecil ini tantangannya tentu akan berbeda lagi. Tetapi yang perlu diingat adalah fitrah anak pada dasarnya berkasih sayang, bukannya sering ‘gelut’. Mindset ini yang perlu terus dijaga dan diwujudkan melalui sikap & perilaku yang akan terus memupuk feeling of brotherhood. I hope 😊

Semoga sedikit sharing ini bermanfaat 😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *