Superhero Islam

Diposting 10 September 2016  |  Dalam kategori Uncategorized
Ayah Bunda Belajar

“Wahai Sa’ad lepaskan anak panahmu! Begitu perintah Rasulullah kepada Sa’ad bin Abi Waqqash”

“Dan Rayyis tau? Kalau biasanya orang jago panahan cuma bisa melepaskan 1 anak panah dg tepat, Sa’ad bisa melepaskan 3 anak panah sekaligus, tepat sasaran dg izin Allah. Keren banget ya!”

Rayyis menatap dg tegang & terpana saat mendengarkan kisah tentang kiprah Sa’ad bin Abi Waqqash yang sewaktu perang Uhud termasuk sahabat yang menyelamatkan Rasulullah dengan panah2nya. Rasulullah saat itu didesak oleh pasukan berbaju besi & berkudanya Khalid bin Walid yang di jamannya setara kekuatannya dg tank, hampir saja beliau terbunuh.

Kisah ini jadi favorit Rayyis, selain kisah heroiknya Ali bin Abi Thalib waktu perang Khaibar yang menjadikan pintu benteng sebagai perisai. Pintu ini berat sehingga mau dibalik oleh 8 orang sahabat saja susah. Luar biasa kekuatan yang diberikan Allah kepada Ali bin Abi Thalib, Hulk aja kayaknya ga sekuat itu ☺️. Juga kisah Zubair Bin Awwam yang setiap perang selalu berada di barisan depan, mendobrak musuh sampai paling belakang dengan 2 pedangnya dan masih kembali lagi ke barisan depan. Masya Allah, dahsyat! Yakin deh Iron Man atau Superman separuh jalan juga udah ngos-ngosan ☺️

Yah, mereka ini sahabat-sahabat Rasulullah yang mulia, orang-orang pilihan Allah, Superhero sejati. Generasi terbaik umat Islam, semua pemberani, semua berakhlak mulia, semua dermawan, semua cerdas, semua taat kepada Allah dan Rasulullah, yang kisah-kisahnya patut dijadikan teladan sedini mungkin.

“Eh, udah mau Dzuhur ni.. Ayo Batman, timnya diajak ke masjid. Sholat dulu…”
Rayyis buru-buru memindahkan lego Batman dan kawan2 yang baru patroli di kota ke masjid yg juga terbuat dari lego.
“Wudhunya antri ya… Yang tertib. Siapa yang jadi imam?”
“Spiderman aja!”
“Oke. Spiderman harus tanggung jawab ya,jamaahnya diperhatikan shaf harus lurus dan rapat..”

Lain waktu.
“Eh Joker ngapain itu kok ikutan bareng sama Batman & Robin?”
“Bunda lupa ya? ‘Kan Joker udah bertaubat!”
“Oh iyaya! Bagus, bagus. Joker jangan mengulangi lagi jadi orang dzolim ya. Sekarang bantu jaga keamanan kota saja”

Kesempatan yang lain lagi.
“Bunda, Hulk itu kalo marah ketemu musuh trus membesar sampe bajunya sobek2 ya?”
“Iya… Nah, Hulk itu sebetulnya tidak perlu marah kalau mau bantu orang lain… Mau menghadapi musuh. Kalau marah mana bisa berpikir dengan tenang? Betul?”
“He-eh..”
“Kayak Rayyis kalo sebel legonya copot2 trus malah nangis teriak2, jadi bisa masang lego ga ya?”
“Ga bisa…”
“Perbuatan paling baik adalah tidak marah, begitu kata Rasulullah. Marah boleh tetapi disampaikan dengan kata2 yang baik yaa…”

Tak terhindarkan, Rayyis juga mengenali superhero2 fiksi walaupun belum pernah menonton film2 atau membaca komik2nya. Maka yang biasa saya lakukan ketika bermain roleplaying dengan lego-lego kesayangan si sulung adalah mengemasnya dengan pembelajaran agama yg ringan dan mendasar. Si anak tidak perlu tahu, bagaimana cerita sebenarnya para superhero fiksi yang sarat bagbugbagbug pukul sana sini, sikap2 arogan kurang santun, plus kegalauan2 identitas.

Ada yang berkomentar: Udahlah biarin aja ‘kan masih anak2, ga usah terlalu kaku strict. Ga usah parno, ga usah serius2 amat.
Justru karena masih usia dini ketika informasi yang diserap masuk ke memori jangka panjang dan akan mempengaruhi perilaku anak, menjadi bagian dari karakternya sepanjang masa hidupnya, maka sudah seharusnya anak dapat teladan terbaik ‘kan?

Jadi teringat sebuah penelitian cukup populer yang dilakukan oleh David McClelland, seorang psikolog sosial mengenai semangat kewirausahaan berbagai bangsa di dunia. Semangat berwirausaha ini ditentukan oleh need of achievement (kebutuhan berprestasi). Dan ternyata yang sangat mempengaruhi need of achievement ini adalah cerita anak.

Mendidik lewat cerita seperti yang dicontohkan pula oleh Rasulullah sholallahu’alayhi wassalam adalah cara menanamkan nilai dengan efektif tapi halus dan tidak menggurui. Semakin kuat sebuah cerita, sedini mungkin sebuah cerita terinstall di otak, semakin membekas di jiwa.

Maka sudah seharusnya kita tidak menganggap remeh dan memperhatikan dengan serius apa saja cerita2, informasi2, yang masuk ke otak anak dan bagaimana dampaknya. Terus amati, terus evaluasi.

Pemimpin yang dicintai, pebisnis handal & dermawan, suami yang penyayang, ayah yang selalu dirindukan… Kualitas generasi yang dahulu dalam waktu 30 tahun saja bisa menguasai 1/3 dunia ini, ada pada Rasulullah dan para sahabat, dan tidak bisa kita temukan pada pribadi para superhero fiktif.

Maka PR besarnya sebelum akan mendidik anak dengan nilai-nilai agung ini adalah bagaimana dengan kita orang tua-nya? Pernahkah kita betul-betul serius mempelajari sejarah Islam? Yang ternyata Masya Allah saya sendiri merinding, takjub, geleng-geleng, deg-degan membaca dan mendengarnya. Terbersit pula sedikit sesal, kenapa ga dari dulu. Karena kisah2 ini tidak hanya menggetarkan jiwa tetapi juga menghidupkan iman. Itu yang paling penting.

Ikhtiar, terus ikhtiar. Dan berdoa… Semoga anak2 bisa meneladani manusia terbaik, Rasulullah sholallahu ‘alayhi wassalam.

Wallahu’alam.
Semoga menjadi pengingat, paling tidak untuk diri saya sendiri.
Jogja, 31 Juli 2016.
Bunda Rayyis & Alyas.

Note.
Cerita Siroh Nabawiyah banyak bertebaran di Youtube, bisa kita dengarkan sambil memasak atau bersih2 (emak2 banged ya ☺️), dan favorit kami adalah yang dituturkan oleh Ustadz Khalid Basalamah, karena cukup lengkap dan lugas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *