Tarbiyah Jinsiyah (Pendidikan Seks dalam Islam)

Diposting 25 March 2018  |  Dalam kategori artikel parenting, islamic parenting, parenting islami

Saat kajian Jogjamuslimahpreneur 2 pekan lalu di De Halal Mart, saya sempat menyinggung soal ini, kaitannya dengan mencegah LGBT maka Islam sudah menawarkan solusinya melalui pendidikan Islam, salah satunya lewat tarbiyah jinsiyah. Bagaimana sebetulnya pendidikan seks dalam Islam? Apa bedanya dengan Barat?

Bismillah, disini saya coba merangkumnya dari berbagai sumber yang praktis diterapkan pada daily parenting kita.

Pendidikan seks dalam Islam mengacu kepada pendidikan akhlak dan adab yang berlandaskan kepada keimanan Allah dan sesuai syariat (aturan) yang telah termaktub secara rinci di Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah. Dan pendidikan dalam Islam itu semata menjaga fitrah, sedangkan fenomena LGBT dan perzinahan yang marak belakangan ini adalah karena manusia sudah begitu jauh dari fitrahnya, sudah terlampau dari batas-batas yang diterapkan syariat.

Sedangkan Sex Education ala Barat hanya mengajarkan “seksualitas yang sehat” atau “seks yang aman” (safe sex) meliputi: seks secara anatomis, fisiologis dan psikologis. Misal, cara mencegah kehamilan, bagaimana supaya tidak aborsi. Paradigma Sex Education ini sepertinya disampaikan Ustadz Fauzil Adhim di tahun 1930 di US menyebabkan maraknya berbagai penyakit seksual, kemudian di tahun 1960 berakibat teen pregnancy.

Dalam sebuah kajian, Ustadz Budi Ashari menyatakan dapat menjadi masalah besar jika pendidikan seksual yang kita ikuti berasal dari masyarakat yang bebas tanpa batas, yang kontennya justru membangkitkan syahwat dan mengeruhkan otak para pelajar. Dr. Adnan Baharits termasuk orang yang tidak setuju dengan pelajaran Biologi mengenai alat reproduksi untuk para pemuda (setingkat SMP-SMA). Menurutnya, hal itu justru membangkitkan syahwat yang tidak perlu. Pendidikan seksual adalah lahan subur bagi pengikut syahwat untuk menebarkan kebatilan, penyimpangan moral, dan pemikiran sesat mereka dengan dalil ilmiah. Salah satu contoh kesesatan dalam pendidikan seksual adalah anak boleh melihat aurat orangtuanya, atau boleh melihat aurat anak yang lain.

Tarbiyah jinsiyah justru tujuannya adalah menghambat syahwat seksual dan mengarahkannya hanya di koridor pernikahan. Bahkan ketika sudah diperbolehkan dalam mahligai pernikahan pun hubungan suami istri memiliki adab yang sarat dengan nilai ibadah seperti dianjurkannya untuk berdoa dan ketika malam pertama disunnahkan untuk berwudhu kemudian sholat sunah dua rakaat.

Menurut Ustadz Budi Ashari, tarbiyah jinsiyah seperti halnya pendidikan lain, memerlukan waktu dan tahapan. Bukan sebuah penjelasan singkat yang tiba-tiba.Misalnya untuk hukuman bagi para pezina tidak pas bila kita jelaskan pada anak balita, pada balita maka salah satu fokusnya adalah membiasakan menutup aurat. Kemudian karena tujuan Tarbiyah ini adalah menjaga kesucian maka cara dan bahasa untuk menyampaikannya juga mesti santun, tidak vulgar. Dan benar bahwa sebaiknya orang tua dan guru yang menjelaskan dengan tenang – tidak panik, baik, dan benar sesuai dengan usianya jika anak bertanya. Bila bukan orang tua atau guru (orang terdekat yang mengasuh mendidik)  yang menjelaskan maka dikhawatirkan anak akan mencari sumber lain yang keruh, yang bisa menjerumuskan. Baik Ustadz Fauzil Adhim maupun Ustadz Budi Ashari sama-sama menyampaikan bahwa pembahasan fiqih adalah pintu utama dan mulia untuk mengajarkan pendidikan seksual karena bernilai ibadah.

Nah apa saja, tarbiyah jinsiyah yang bisa kita terapkan sedini mungkin kemudian bertahap kepada anak-anak?

Berikut saya rangkum dari penjelasannya dari berbagai sumber yang bisa dicermati lebih lanjut di daftar referensi di akhir tulisan:

  1. Mengajari anak mengenai apa itu aurat, bagian tubuh mana saja, dan mengajarinya untuk menutup sedini mungkin. Misal membolehkan anak tidak berbusana hanya saat di kamar mandi dan ketika di kamar hanya orang tertentu saja yang boleh lihat auratnya. Selain dari itu anak harus menutup auratnya. Juga sambil mengajarkan bagian tubuh yang mana saja yang tidak boleh dipegang orang asing.
  2. Meminta anak menahan/menjaga pandangan(gadhul bashar). Ada adab-adab yang mesti diterapkan bahkan semisal ketika laki-laki melihat laki-laki atau perempuan melihat perempuan yang dijelaskan secara detail di buku Tarbiyatul Aulad fil Islam karya DR. Abdullah Nashih Ulwan. Hal ini juga termasuk membantu mendampingi anak memfilter apa-apa saja yang ia lihat dan dengar. Termasuk mendampinginya saat melihat tayangan baik di TV maupun internet.
  1. Memisahkan tempat tidur Anak yang telah mencapai usia 10 tahun jangan dibiarkan tidur bersama saudaranya yang sejenis dalam satu selimut tanpa memakai pakaian. Begitu juga dengan orang tua sendiri yang sejenis. Sudah ada beberapa kasus anak yang terjerumus menjadi gay akibat orang tua yang lalai soal ini.

 

  1. Ajarkan Meminta Izin Masuk ke Kamar Orangtua

Sebagaimana disebutkan dalam QS An-Nuur: 58, orangtua hendaklah mengajarkan anak-anaknya untuk meminta izin masuk kamar orangtua pada 3 waktu utama (sebelum Subuh, pada tengah hari, dan setelah isya). Untuk anak-anak yang sudah baligh, maka setiap kali akan masuk kamar orang tua, harus meminta izin. Selain itu, orang tua hendaklah menjaga dari pandangan anak pada waktu berganti pakaian.

 

  1. Menjaga anak supaya tidak melihat dan mendengar pemandangan erotis. Dalam hal ini termasuk ketika orang tua si anak sedang berhubungan, maka tidak boleh sampai anak melihat, lakukan di tempat yang tidak bisa dilihat dan didengar anak.

 

  1. Menanamkan Jiwa Maskulin kepada Laki-laki dan Jiwa Feminin kepada Perempuan. Rasulullah sangat membenci laki-laki yang berpakaian perempuan atau sebaliknya. Menurut penelitian, kelainan-kelainan syahwat tidak ada yang dimulai dari lahir. Kelainan syahwat bermula dari lingkungan. Jadi kelaki-lakian itu harus ditumbuhkan sejak dalam keluarga. Jangan laki-laki diberikan mainan perempuan atau sebaliknya.

 

  1. Kenalkan Konsep Mahram & Non-Mahram dan Bagaimana Adab bergaul dengan Non Mahram.   Batasan mana yang mahram dan bukan mahram jarang diajarkan dalam keluarga. Kadang anak sangat akrab dengan sepupunya, padahal dalam Islam, sepupu itu nonmahram (mereka boleh menikah).
  1. Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilath (campur baur/pergaulan bebas) di antara laki-laki dan perempuan.
  2. Mendidik agar tidak melakukan khalwat (berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram).
  3. Mendidik etika berhias sehingga kaum muslimah tidak bertabarruj.
  4. Mengajarkan Fiqh Thaharah sejak Dini

Bagian dari Tarbiyah Jinsiyah adalah pemeliharaan anggota-anggota tubuh manusia. Dalam kitab fiqh ada bagian thaharah yang merupakan kewajiban orang tua untuk mensosialisasikan kepada anak-anaknya bagaimana menjaga kebersihan kelamin untuk kepentingan thaharah, macam-macam najis, dan bagaimana tata cara berwudlu yang benar.

  1. Jelaskan Proses Kejadian Manusia

Dari nuftah, alaqah, mudhghah (Morulla, Blastrulla, Gastrulla; tentang prosess kejadian manusia salah satunya ada di QS Al Hajj:5) dan seterusnya.

  1. Mengajarkan Puasa Sunnah

Sebagaimana perkataan Rasulullah, puasa itu akan mempersempit jalannya syaitan, dan lebih bisa menahan gejolak nafsu syahwat.

  1. Mengenalkan Sanksi Zina

Sanksi zina dalam Islam sangat berat. Orangtualah yang menjadi penanggung jawab utama terhadap dosa perzinaan anak-anaknya. Sudahkah anak dididik untuk tidak berzina?

  1. Etika kehidupan bersuami istri secara Islam baru boleh di ajarkan kepada mereka yang benar-benar akan menikah.Pada masa akhir kana-kana maka anak seharusnya sudah mendapat penjelasan mengenai baligh atau fase pubertas.

Hal yang mendasar sekali untuk mengawali tarbiyah jinsiyah adalah dengan menanamkan iman yang kuat kepada anak, membuat anak mencintai Allah dan Rasulnya, sehingga timbul rasa takut untuk melanggar perintah Allah dan Rasulullah, dan berhati-hati menjaga kesucian diri, serta timbul rasa harap akan janji Allah yaitu balasan kebaikan bagi orang-orang yang bertaqwa.

Semoga bermanfaat. Feel free untuk chat dengan saya jika butuh diskusi ke IG: @ayu_kinanti, FB: Ayu Kinanti Dewi, atau Whatsapp 081949106555.

 

 

Referensi:

  • Kajian Ustadz Mohammad Fauzil Adhim, Ramadhan 2014, Masjid Kampus UGM
  • Kajian Tabiyah Jinsiyah Ustadz Budi Ashari, Lc
  • https://seizeyours.wordpress.com/2014/11/27/tarbiyah-jinsiyah-pendidikan-seksual-kepada-anak-ust-budi-ashari-lc/
  • Tarbiyah Jinsiyah Ustadzah Herlina Amron, MA.
  • http://arsipmendidikanak.blogspot.co.id/2016/08/15-konsep-tarbiyah-jinsiyah-sex.html
  • http://pustaka.islamnet.web.id/Bahtsul_Masaail/Khutbah%20dan%20Ceramah/TARBIYAH%20JINSIYAH%20DALAM%20KELUARGA%20MUSLIM.htm
  • Buku Pendidikan Anak dalam Islam (Tarbiyatul Aulad Fil Islam) by DR. Abdullah Nashih ‘Ulwan
  • Buku Pendidikan Seks Usia Dini bagi Anak Muslim by Prof. Yousef Madani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *