The Power of Father (part 1)

Bismillah.

Dari sebuah seminar yang saya ikuti juga artikel yg saya baca, ternyata saya menemui sebuah fakta menarik mengenai peran ayah yang terdapat di dalam Al-Qur’an:

Jumlah dialog antara Ayah & Anak jauh lebih banyak daripada Dialog antara Ibu & Anak.

Banyak yang beranggapan para ibu lah yg secara alamiah yang seharusnya mengurus anak dari hari ke hari. Bahkan sampai-sampai ada paham “Anak tu ya urusan Ibu, Bapak nyari nafkah aja, Bapak tahu beres..”. Sungguh menyedihkan, bahkan urusan komunikasi dengan anakpun disampaikan lewat Ibunya. Namun mari coba kita renungkan, kenapa di Al-Qur’an dialog antara Ayah & Anak jauh lebih banyak daripada dialog antara Ibu & Anak.

Saya setengah kaget saat mengetahui bahwa Al-Qur’an ternyata sudah berlangkah-langkah jauh lebih maju menggariskan pentingnya peran Ayah dalam pengasuhan. Hal ini tentu bukan kebetulan. Bagi saya temuan ini adalah sebuah cerminan dan sebuah panduan yang telah Allah sampaikan dalam Al-Qur’an, yang seharusnya kita aplikasikan dalam pengasuhan anak. Setelah menemukan hal tersebut di dalam Al-Qur’an, mungkin kita jadi bertanya: Memangnya bagaimana dampak atas kurangnya peran Ayah di dalam kehidupan anak?

***
Katakan orang ini namanya si A. Sejak bayi si Adititipkan oleh orang tuanya kepada kerabat yang kebetulan adalah janda. Otomatis pengasuhan dan pendidikan diserahkan secara menyeluruh kepada seorang janda tersebut. Ternyata di masa dewasanya ditemui bahwa dalam diri si A ini terjadi gangguan jiwa schizoafektif, yang menurunkan kualitas kognisi, emosi, & sosialnya. Pada kasus yang lain, katakan orang ini namanya si B, di masa SD sering sekali menjadi korban bullying teman-temannya, sampai sebelum masa kuliah dia merasa menjadi orang yang underdog dan low self esteem. Pada akhirnya saat masuk kuliah pun si B ini menjalani kuliah dengan sekedar menjalani saja, dengan tidak ada tujuan hidup.

Selain dari pengamatan saya, cerita dari beberapa orang di sekelilingnya menyimpulkan bahwa mereka sering sekali merasa bingung pada saat harus mengambil suatu keputusan. Mereka juga kurang yakin dengan dirinya bahwa sebenarnya mereka mampu dan pantas mendapatkan sesuatu. Selain itu mereka juga sering ditemui menunda-nunda pekerjaan yg menjadi tanggung jawabnya. Dan mereka punya ketergantungan emosi yang kurang sehat kepada orang lain, baik kepada kekasih maupun sahabat. Ternyata pada orang-orang ini ditemukan bahwa peran seorang ayah di dalam kehidupan mereka begitu dingin ataupun kurang.

***

Penelitian psikologi berpuluh-puluh tahun melaporkan bahwa kurangnya peran orang tua terutama ayah dalam kehidupan anak mengakibatkan si anak:

1. mempunyai konsep diri yang negatif.
2. cenderung mengalami kesulitan dalam adaptasi sosial.
3. berperilaku agresif dan mengarah ke kenakalan remaja.
4. memiliki masalah-masalah akademis di sekolah.
5. memiliki masalah pada kesehatan fisik maupun mental.
6. mengalami unemployment (tidak mempunyai pekerjaan) & low incomes (pendapatan yang rendah).

Saking pentingnya peran Ayah dalam mendidik anak ini, sampai-sampai di negara Amerika Serikat ada gerakan khusus Fatherhood yang mendorong ayah-ayah untuk terlibat aktif dalam pengasuhan anak. Begitu maraknya masalah-masalah sosial di negara tersebut terjadi, termasuk tingginya kriminalitas, diyakini karena adanya FATHER CRISIS di mana peran ayah terhadap anak dinilai sangat kurang. Di sini dapat kita simpulkan bahwa tiadanya, kurangnya, dinginnya peran Ayah jelas menimbulkan dampak-dampak negatif pada perkembangan anak, dan akhirnya dapat berakibat juga pada rusaknya sebuah Bangsa.

***

Bagaimana menurut Ayah-Bunda? Apakah Father Crisis memang sedang terjadi di masyarakat sekarang ini? Sudahkah Ayah-ayah kita di Indonesia berperan dalam tumbuh kembang anak? Silahkan share pengalaman dan pendapat di kolom komentar di bawah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *