The Terrific Two : Perkembangan Emosi Anak 2 Tahun

Bismillah.

Saya sempat bergidik ketika ada beberapa orang yg komentar, bahkan curhat seperti ini:

“Anak tu lucunya cuma setahun pertama mbak, setelah itu bikin pusiiing aja..”

“Kalo masih umur setahun lebih sih ga aneh-aneh,enak diajak kemana-mana.. kalo udah 2 tahun itu lho kemauannya kuat bgd. Aku mau kemana2 jadi males..”

“Setelah umur 2 tahun ini kok anakku makin susah dimanage ya mb.. terus egonya makin kuat, kadang2 aku sampe kewalahan…”

Saya waktu itu cuma ngeliatin Rayyis yg belum genap 2 tahun,tanpa bisa komentar banyak..

Dan bertanya-tanya: Is the Two Years Old that Terrible?

Setelah baca-baca literatur & artikel, ternyata memang ada istilah “Terrible Two” bahkan “Terrible Three”. Yaitu tahapan ketika anak umur 2-4 tahun (ada yang bilang mulai umur 1,5 tahun) menunjukkan perilaku seperti:

– memaksakan keinginannya, jika tidak dituruti mengamuk, emosi tidak terkendali (temper tantrum)
– melakukan hal-hal yg justru dilarang
-insisting & demanding are the two keywords

So, do i currently face The Terrible Two? My Rayyis is now 28 months.

Selama 2 tahun pertama, saya betul-betul merasakan kooperatifnya Rayyis. He’s very nice to people & quite easy to manage. Nah, kira-kira umur 2 tahun lewat beberapa minggu saya mulai merasakan perubahan sikap yg agak drastis, misal:

– Pd kondisi tertentu, tau2 banting2 barang. Seringnya sih mainan sama buku (sepertinya Rayyis cukup paham kalo banting pecah belah itu berbahaya)
– Tidak lagi mudah dialihkan perhatiannya ketika lagi kepengen sesuatu
– “Tidak.. tidak.. Oh tidak!” Jadi kata-kata andalan.
– Tidak seramah yang dulu sama orang lain, tidak semua orang mau disalimi misalnya
– Kadang-kadang seakan objek apapun mau dieksplorasi (baca=dipegang, disobek, dibanting)
– Kalo sebel banget gigit atau mukul, terutama kalo lagi mainan trus mainannya diambil/direbut

Saya kewalahan? Iyalah hahaha.

Agak shock & sedikit stres, tapi ga mau lama2. Saya percaya there’s nothing wrong with my kiddo, ini cuma emaknya aja yg kurang ilmu. Akhirnya saya belajar lagi, baca2 artikel di beberapa situs terpercaya, juga download & beli beberapa e-book tentang toddlerhood. Saya juga “lapor” sm Allah, karena mau pake teknik parenting apapun yg menggenggam hati anak saya juga Allah. Semoga Allah tunjuki hati anak kecil ini, juga emaknya :’)

Setelah membaca sekian artikel, menganalisa perilaku Rayyis & anak2 lain yg seumuran, saya dapat beberapa kesimpulan yang sebetulnya mengarah ke Perkembangan Emosi dan Sosial Anak Usia Dini seperti Rayyis:

1. Perilaku ‘demanding’ & ‘insisting’-nya karena ego-nya berkembang. Anak sadar bahwa dia punya pilihan & bisa memperjuangkan keinginannya. Kata favorit ‘tidak’ ini salah satu manifestasi. Anak sekarang tau kalo dia punya pilihan untuk menolak. This’s not something bad actually, ego ini nanti berkembang, akan mengarahkan anak ke tujuan. Nah,tinggal peran orang tua dr sekarang ini utk mengarahkan ke tujuan yg baik & benar.

2. Emosi tidak terkendali karena anak memang masih developing cara untuk mengelola emosinya & mengekspresikan perasaannya dengan cara yang tepat. Mungkin pernah ya menemui bahkan orang dewasa pun banyak yg belum bisa mengelola emosinya dg baik. Apalagi anak yg baru 2 tahun hidup, menamai emosinya sendiri pun belum fasih.

Pada anak juga terkait kemampuan bicara yg baru saja berkembang pesat. Untuk kasus Rayyis, dia baru melesat vocabulary-nya memang setelah 2 tahun. Dr cuma sekitar 30 kata sebelum 2 tahun, sekarang sudah ratusan. Dr cuma kata benda sekarang sudah kata kerja,kata sifat, SPOK.. sudah bisa menamai emosi misal sedih, senang, atau marah. This’s the good news,anak semakin pintar berkomunikasi.

3. Rayyis yg tidak sefriendly dulu saya melihatnya sebagai sebuah kemajuan berpikir. Kalo ketemu orang di analisa dulu,ini orang cukup aman ga buatku. Rayyis is just being more cautious & that’s something good. Toh kalo sudah benar2 kenal Rayyis bakal enjoy ga mau pulang dr tempat itu, atau orangnya ga boleh pulang :p

4. Ada 1 faktor yg bisa jd benang merah semua perilaku yg belum pas ini —> dikacangin alias ga diperhatikan hehe. Waktu saya & ayahnya lagi sibuk2nya dg agenda bisa dipastikan Rayyis makin bertingkah. Tapi kalo agenda sedang senggang he’s gonna be very cooperative 😉

5. Faktor ke-2 adalah anak bosan, bosan, bosan :D. Ini masa anak sudah mulai sangat berkembang motorik halus & motorik kasarnya juga kemampuan kognitifnya, jadi permainannya harus berkembang juga, ga bisa kaya masa sebelum 2 tahun. Tantangannya, batita belum bener2 mumpuni melakukan yg advance (misal belum fasih menggunting atau kadang2 masih asal masukin barang ke mulut). Tetapi anak sudah bisa diajak permainan yg asik2, kita sbg orang dewasa bisa terlibat didalamnya misalnya roleplaying.

Ada beberapa Busy Book for Toddlers bahkan menyarankan orang tua untuk membuat jadwal/perencanaan kegiatan/games utk anak. Dan games-nya ga perlu mainan mahal.. bisa memanfaatkan barang2 di rumah. Anak cuma butuh sesuatu yg menyalurkan energinya & seorang teman yg mdampingi dg sepenuh hati ikutan maen masuk ke dunianya.
Singkatnya.. masa ini sebuah tahapan perkembangan saja yang harus dilewati anak, bahkan kita pun pernah melewatinya. Anak mau tambah pinter, begitu yang Ibu mertua saya sering bilang. Akan ada hal2 tidak enak yang akan kita hadapi sebagai orang tua, tapi insya Allah eventually anak akan tumbuh mulia & cerdas, jika didampingi dengan hati yg ikhlas & ilmu yang pas 🙂

Ini parenting insight yang saya dapat. Mudah2an bermanfaat ya 🙂

Layak baca:
http://www.babycenter.com/0_your-20-month-olds-social-and-emotional-development-terrible_1273321.bc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *