UNSTOPPABLE QUESTIONS : Balita Bertanya Anda Menjawab

Diposting 6 February 2016  |  Dalam kategori Uncategorized

Rayyis: Bunda, kenapa kok hujan?
Bunda: Hujan berasal dari awan, nak.
R: Kenapa ada awan?
B: Awan dari air di bumi yang menguap
R: Kenapa menguap?
B: Karena ada sinar matahari
R: Kenapa ada sinar matahari?
B: Emm… karena Allah menciptakan matahari, supaya kita di bumi bisa tetap hidup

Dan di Lain waktu ada pertanyaan lagi:
R: Bunda, kenapa adek belum bisa jalan?
B: Karena kakinya masih belum kuat untuk jalan
R: Kenapa belum kuat?
B: Adek masih kecil, umurnya baru 3 bulan. Nanti kalo sudah umur 1 tahun bisa insyaa Allah berjalan. Nanti Mas Rayyis ajari adek jalan ya. Adek disemangatin: semnagat dek!
R: Ya, diajarin ya?
B: Iya…

Ini hanya salah dalah dua pertanyaan yang ditanyakan Rayyis sejak usianya 3 tahun. Pertanyaan yang tiada henti disampaikan dari bangun sampai tidur lagi. Anytime, any situation, any where.

Kadang-kadang, apalagi pas kondisi terburu-buru, banyak urusan yang harus diselesaikan, pertanyaan-pertanyaan Rayyis rasanya membuat kami kewalahan. Biasanya hal-hal yang membuat kami merasa kewalahan pada tiap tahap perkembangan saya jadikan alarm bagi untuk berhenti sejenak dan mempelajari : apa gerangan yang sedang terjadi pada diri bocah yang hampir berusia 4 tahun ini?

Setelah mempelajari beberapa artikel dan textbook, saya mulai bisa memahami apa yang sedang terjadi dibalik unstoppable questions-nya Rayyis dan kira2 bagaimana menyikapinya:

Golden age-nya masih belum berakhir. pertanyaan-pertanyaan yang terasa mungkin meaningless buat orang dewasa ini amat penting untuk anak. Lewat pertanyaan2 ini otaknya sedang berkembang lebih advance lagi. Otaknya sedang mengalami sinaptogenesis & myelinasi. Otak pada masa balita sangat sensitif  dengan stimulus yang diterimanya dari lingkungan (plasticity). Jika direspon dengan positif (responsive, tepat, bermakna, berorientasi belajar) maka otak akan lancar jaya terus bertumbuh. Dan jika direspon negatif (mengabaikan,abusive), perkembangan otak akan terhambat.

Dengan bertanya, anak mengambil peran aktif pada proses pembelajarannya untuk mengenal dunia. Menyambut setiap pertanyaannya dengan positif, menganggap pertanyaannya penting, memfasilitasi pertanyaannya menjadi momen belajar yang mengasyikkan akan membangun harga diri-nya (self esteem).

Saya jadi teringat apa yang dituliskan Bapak Fauzil Adhim di bukunya: harga diri yang sudah terbangun ini akan membangkitkan motivasi intrinsik untuk belajar. Pada usia 2-4 tahun tugas orang tua (dan guru) adalah menciptakan perasaan positif pada kegiatan belajar.  Kegemaran belajar-lah yang perlu terlebih dahulu ditumbuhkan pada diri anak balita.

Kemudian, bertanya juga adalah wujud curiosity (keingintahuan) anak yang begitu tinggi. Sementara curiousity adalah salah satu kunci pembelajaran yang lagi-lagi harus dipupuk. Sehingga harapannya di usia-usia mendatang anak bisa menjadi pembelajar mandiri yang belajar bukan karena disuruh orang tua/guru tetapi karena motivasi intrinsik yang kuat untuk belajar.

Anak sedang mengembangkan thinking skills – melogikakan apa yang ia lihat dengar & rasakan dengan bertanya. Maka orangtua/caregiver perlu memikirkan jawaban dari setiap pertanyaannya dengan baik, karena jawaban-jawaban ini akan berefek pada logika berpikirnya-caranya memandang dunia-menyelesaikan masalah. Jadi menjawab pertanyaannya tidak bisa asal-asalan, asal anak diam, asal anak puas.

Seperti ketika Rayyis pernah bertanya tentang hantu. Alih2 bilang hantu itu menakutkan atau jahat, saya jelaskan bahwa hantu tidak ada. Allah menciptakan jin & setan sebagai makhluk ghaib yang tidak kelihatan.

Setan tidak suka sama anak yang rajin sholat & mengaji. Jawaban kita akan mempengaruhi cara anak memandang sesuatu.

Jelaslah sudah, anak bukan sekedar bertanya. Orang tua perlu menyadari ini supaya bisa lebih BERSABAR & bahkan MERESPON LEBIH menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang kadang-kadang tanpa henti dan membingungkan.

Biasanya kalau sudah mentok jawab pertanyaan Rayyis saya akan bilang:
“Nak, sudah dulu ya nanya-nya. Dilanjutkan besok pagi ya?”
“Rayyis, Bunda belum tau jawabannya, Bunda cari tau dulu ya…”
“Rayyis, nanti kalau sudah lebih besar insyaa Allah akan mengerti…”
“Rayyis… Bunda berpikir dulu ya jawabannya…”

Merespons pertanyaan anak lebih jauh – tidak sekedar menjawab bisa lebih menstimulasi otaknya untuk berpikir & mengembangkan semangat belajar. Misalnya:

1. Dengan balik bertanya

R: Bunda, kenapa mobilnya harus dikunci?
B: Kalo ga dikunci nanti bisa dicuri orang
R: Kalo dicuri orang nanti apa?
B: Mm, kalo dicuri orang nanti apa ya kira2?
R: Hilang mobilnya!
B: Betul! Nanti kalo hilang mobilnya kita kemana2 naik apa?
2. Menggunakan media untuk menjawab.

Rayyis alergi dairy product, termasuk susu UHT & keju. Rayyis sempat heran & protes kenapa keju pun hanya boleh terbatas dikonsumsi.
R: Bunda kenapa keju itu dari susu?
B: Keju itu memang dari susu sapi. Mau lihat cara bikinnya?
R: Mau!
B: Oke. Nanti kita cari videonya YouTube ya.
Sejak nonton video pembuatan keju, Rayyis ga pernah protes lagi soal perkejuan ini hehe.
Sewaktu jadi sering bertanya soal kota & negara2, saya berikan padanya peta dunia dengan gambar2 lucu. Ternyata Rayyis suka & sekarang sudah mulai tahu nama2 kota, pulau, & negara.
3. Sengaja menghadirkan sesuatu supaya anak bertanya.

Misalnya dengan menyediakan buku-buku ensiklopedi. Rayyis biasa minta dibacakan 6-7 buku setiap hari, otomatis pertanyaan jadi terus mengalir bahkan sampai Bundanya sudah terkantuk2 sambil menyusui si adek

Semoga kita semua tidak termasuk orang tua yang menjawab pertanyaan anak dengan respon negatif seperti:
“Nanya mulu sih…” atau “Bisa diem dulu ga?” atau “Kaya gitu kok ditanyain sih…”
Jika tanya di dalam dirinya terus menerus tidak bisa difasilitasi oleh orang2 terdekat yaitu orang tua & other caregiver maka suatu saat ketika sudah lebih dewasa anak akan bertanya ke LUAR entah teman sebaya atau malah update status. Bahkan untuk pertanyaan2 kritis yg seharusnya didampingi orang tua:
Pacaran itu apa?
Mimpi basah itu seperti apa?
Semoga anak-anak selalu akan kembali ke kita orang tua-nya sebagai tempat bertanya, berkonsultasi. Semoga Allah senantiasa member kita petunjuk.

Semoga bermanfaat,

Reference:

1.    Child Development, Third Edition: A Practitioner’s Guide. By Douglas Davies
2.    Segenggam Iman untuk Anak Kita. By Mohammad Fauzil Adhim
3.       Using questions to support your chid http://www.zerotothree.org/child-development/school-readiness/using-questions-to-support.html?referrer=https://www.google.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *