YUK BERES-BERES, NAK! : Tips Memotivasi Anak Merapikan Mainan

Diposting 5 May 2016  |  Dalam kategori Uncategorized

“Awas… Monster sapu mau beraksi! Semua barang yg ada di lantai akan kumakan… Huahahahaha….!”

Bunda datang dengan langkah ala monster raksasa sambil bawa sapu.

“Jangan monster sapu, ini mau aku beresin dulu…”

Sedikit lebay memang, tapi cukup ampuh untuk memotivasi Rayyis beres2 mainan setiap malam. Rayyis langsung terbirit2 memunguti mainan yg berceceran ?

“Apaaa iniiii? Monster Sapu menemukan sebuah lego! Dimakan aja ya?”

“Jangaaaan! Itu punyaku, akan kuselamatkan…!”

Setiap malam saya akan memberikan reminder pada Rayyis.

“Nak, jam 9 nanti kita beres2 ya. Sekarang jarum panjang angka 3 berarti nanti di jarum panjang angka 12 berhenti bermain, beres2, terus siap2 tidur ya!”

Lain waktu ketika sudah jam 21.00 dan Rayyis masih asyik mainan, saya dekati lalu berbicara dengan tinggi badan setara menatap matanya.

“Nak, mainan ini pemberian siapa?”
“Allah”
“Rayyis mau mainannya ditambah sama Allah?”
“Mau…!”
“Kalo mau berarti Rayyis harus bersyukur, cara bersyukurnya dengan merawat mainannya. Artinya mainannya disimpan dg rapi setiap harinya…Oke?”
“Oke…”
“Siapa yang mau mainannya ditambah sama Allah?”
“Aku….!”
“Yuk beres-beres, yuk berlomba dalam kebaikan. Malaikat Raqib nyatet terus nih kita berbuat baik jaga kebersihan..!”

Pernah pula saya ‘memotivasi’ sambil mengomel dan bisa ditebak bukannya semangat hari berikutnya si anak malah cari2 alasan untuk tidak beres2. Maka saya tinggal jauh2 omelan2. Jam beres-beres dimajukan supaya saat saya belum dalam kondisi mengantuk & si Adek juga belum rewel.

“Rayyis tau ga? Kalo mainannya ga diberesin, mainannya sedih loh…Huaaaa….Mas Rayyis aku kedinginan….”

Rayyis yang masih asik mainan mendadak berhenti.

“Kemaren malam aku ga disimpan dengan baik di kamar2ku jadi aku kedinginan, mana semut2 kadang2 suka lewat2… Kan ga enak… Malam ini aku minta tolong disimpan baik2 di kamarku ya…”

“Ya mainan… Jangan sedih ya… Nanti aku simpen kamu kok. Tunggu ya…”

“Mainan itu sama kayak kita Nak. Kita kalo tidur di luar rumah ‘kan juga ga enak ya? Dingin kotor ada kecoa ada tikus hiii… Mainan juga sama… Maunya tidur dikamar2nya…”

Rayyis sulung saya ini saya amati langsung termotivasi untuk berbuat sesuatu jika ada yang butuh bantuan, siapa saja, apa saja. Maka saya manfaatkan buat melancarkan acara beres2 ini. Cara ini efektif, ruang keluarga bersih karena Rayyis ga mau ada mainannya yang ‘tidur’ kedinginan. So sweet ☺️

Di awal dulu, untuk inisiasi kebiasaan beres2 ini kami memberikan 1 bintang setiap malamnya, sampai dengan 7 bintang bisa menerima hadiah.
Butuh waktu 1 tahun untuk kami men-‘training’ skill beres-beres ini sampai kini Rayyis mulai bisa beres2 sendiri (lego yang kecilnya amit2 itu) tanpa dibantu, sekarang pun masih terus berprogress.

Mengapa acara beres2 ini begitu penting?

Anak belajar banyak sekali hal: bersyukur, bertanggung jawab, disiplin, mengelola barang2nya secara efektif (bekal skill manajerial paling awal yang bisa kita berikan sebagai dasar di masa depannya), menanamkan nilai kebersihan & keteraturan di dalam diri.

Sebuah artikel pernah menyebutkan bahwa anak yang tidak terbiasa membereskan merawat mainan & barang2nya kelak ketika dewasa juga cenderung lari dari masalah.

Memang dengan adanya anak2, rumah kita tidak bisa rapi sepanjang waktu. Namun paling tidak jika setiap malam dibereskan, kita bisa bangun pagi dengan pemandangan rumah yang tertata rapi. It brings a positive energy to start the day ☺️

Supaya acara beres2 lancar jaya maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan/bisa diterapkan:

1. Di awal tetapkan standar yang rendah dulu sesuai kemampuan anak lalu perlahan meningkat. Misalnya cukup memasukkan semua mainan ke box itupun dibantu. Perlahan meningkat sambil dikategorikan berdasar jenis. Meningkat lagi sampai benar2 mandiri.

2. Sediakan wadah2 yang sesuai dengan jenis mainan lalu kategorikan. Misal untuk lego sediakan yg pendek & lebar (seperti box jualan donat) jadi anak tidak perlu mengeluarkan semua mainannya cukup buka tutup lalu pasang2. Saya jg prefer wadah2 bening supaya mainan yang didalamnya kelihatan.

3. Tetapkan aturan bermain. Misal soal area bermain: berikan batasan yang jelas supaya mainan tidak tersebar ke seluruh penjuru rumah. Misalnya mainan hanya boleh di karpet/kamar ini saja, kalau ada yang keluar berarti mainan akan disimpan Ayah Bunda sementara waktu.

4. Praise, praise, praise. Puji dengan tulus progress sekecil apapun. Anak sangat berbeda dengan kita orang dewasa, pikiran seperti: “Masa gitu aja ga bisa sih, lama banget sih…” hanya akan menyurutkan semangat anak berbuat baik.

5. Jangan bandingkan dengan anak lain tetapi bandingkan dengan keberhasilan si anak di waktu yang lain: “Yuk Nak, semangat beberesnya. Seperti kemaren malam itu loh, Mas Rayyis keren sekali semuanya dibereskan sampai rapi tanpa bantuan Bunda. Wow!”

Terakhir, buang jauh2 pikiran2 seperti: “Kalo anak udah 2 mah ga bakal bisa rapi rumah itu. Biar ajalah…”

“Anak tu memang sukanya ngerusak, mainan ga pernah awet… 1-2 hari juga udah bagus…”

Rapi atau berantakan bukan by default tetapi by training dan pelatihan paling baik adalah dimulai sedini mungkin. Dan… Utamanya dimulai dengan mindset bahwa: anakku pintar mengelola mainannya, anakku pandai merawat mainannya.

Wallahu’alam.

Semoga bermanfaat.

Our parenting stories:
ayahbundabelajar.blogspot.com

#ayahbundabelajar #parenting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *